Warung Makan Murah Meriah Gilingan Solo Setelah Tarawih Zayed: Cara Warga Menikmati Malam Tanpa Tergesa
Kalau Anda keluar dari Masjid Sheikh Zayed lalu mengikuti arus kendaraan, sebagian orang akan belok tidak terlalu jauh. Bukan menuju pusat kota, bukan pula pulang. Mereka mengarah ke Gilingan. Di sinilah malam berubah nada — dari megah menjadi akrab.
Di Solo, setelah tarawih orang tidak selalu mencari tempat besar. Justru seringnya mencari yang biasa saja. Lampunya tidak terlalu terang, kursinya sederhana, tapi waktunya terasa longgar. Kebiasaan ini biasanya dipahami setelah orang membaca kebiasaan makan malam sekitar Zayed lalu menyambungnya dengan tempat makan yang buka sampai larut.
Artikel ini bukan soal rekomendasi tempat tertentu. Ini soal kebiasaan. Kenapa sebagian warga justru memilih warung sederhana di Gilingan setelah ibadah selesai.
Bukan Cari Murah, Tapi Cari Tenang
Banyak yang mengira orang ke Gilingan karena harga. Padahal bukan itu alasan utamanya. Murah memang menyenangkan, tapi yang dicari sebenarnya rasa santai. Di sana orang tidak merasa sedang makan di luar — rasanya seperti duduk di teras sendiri.
Anda akan melihat keluarga kecil duduk lama, rombongan teman tertawa pelan, dan kadang ada yang hanya memesan minum dulu. Tidak ada yang buru-buru. Malam berjalan sendiri.
Di tempat seperti ini, makan bukan kegiatan utama. Ia hanya teman ngobrol.
Perbedaan Suasana Mengubah Selera
Dekat masjid, orang cenderung memilih yang ringan. Tapi begitu agak menjauh ke Gilingan, pilihan berubah. Bukan karena lapar mendadak, tapi karena suasana mengizinkan.
Kalau dekat masjid Anda mungkin cukup hangat-hangat, di sini orang mulai menambah sedikit porsi. Bukan banyak — hanya cukup membuat duduk lebih lama.
Kebiasaan itu mirip dengan jamaah yang datang ramai setelah tarawih, biasanya mencari tempat duduk bareng dulu sebelum benar-benar makan.
Jam Setengah Sepuluh: Pembuka Malam Kedua
Di waktu ini, perut mulai memberi sinyal kecil. Bukan lapar besar. Hanya ingin ditemani. Biasanya makanan ringan dulu yang muncul.
Sego gulai malam hari terasa pas — hangatnya seperti membuka pintu percakapan. Setelah beberapa menit, barulah orang menambah.
Kalau obrolan mulai dalam, sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan datang pelan. Tidak dimakan cepat. Kadang satu tusuk bisa bertahan sampai cerita selesai satu topik.
Kenapa Orang Betah Lama
Warung sederhana memberi satu hal yang jarang disadari: tidak ada tekanan waktu. Tidak ada antrean panjang di belakang kursi. Anda bebas duduk selama yang dibutuhkan.
Karena itu, sebagian warga memilih tempat seperti ini meskipun sedikit menjauh dari masjid. Mereka tahu malam bukan untuk dipercepat.
Kebiasaan makan sederhana di area ini bisa Anda lihat di cerita makan malam murah Gilingan dekat Zayed.
Saat Suasana Menghangat
Menjelang pukul sepuluh lewat, suara makin pelan. Anak kecil mulai tidur di kursi. Angin malam terasa lebih dingin. Di sinilah makanan berkuah paling terasa.
Tengkleng kuah merangkul tulang hangat biasanya dinikmati perlahan. Bukan untuk mengenyangkan, tapi untuk menemani jeda.
Kami pernah merasakan suasana seperti itu di satu tempat yang cukup dikenal warga sekitar. Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Aroma datang lebih dulu daripada sendok pertama.
Yang membuat betah bukan hanya makanannya, tapi karena orang tidak merasa diusir waktu.
Makan dan Obrolan Punya Ritme Sendiri
Di Gilingan, urutan makan sering mengikuti alur cerita. Kalau obrolan masih ringan, makanan ringan. Kalau mulai serius, porsi bertambah.
Rica-rica menari lebih berani biasanya muncul ketika kantuk datang. Pedasnya bukan untuk menantang, tapi membangunkan.
Tempat Sederhana, Fasilitas Tetap Penting
Meski sederhana, kenyamanan tetap dicari. Parkir luas memudahkan rombongan. Bus maupun elf bisa parkir tanpa khawatir. Di dalamnya ada mushola. Ada juga toilet. Jadi cocok untuk rombongan juga dan fokus pada kenyamanan konsumen.
Bukan Sekadar Kenyang
Orang Solo pulang bukan karena makanan habis, tapi karena malam selesai. Kadang masih ada sisa di meja, tapi obrolan sudah cukup.
Menutup Malam
Sebelum pulang, biasanya minum lagi. Bukan karena haus, tapi sebagai tanda selesai. Lalu kendaraan dinyalakan pelan, jalanan sudah sepi, dan kota seperti mengucapkan selamat malam.
Bila butuh arah atau ingin bertanya suasana malam hari, Anda bisa kirim pesan ke WhatsApp 0822 6565 2222.
Dan jika penasaran dengan salah satu hidangan yang sering menemani cerita malam warga sini, kami pernah menuliskannya di Sate kambing solo terkenal.
Semoga perjalanan Anda selalu sehat, hati tenang, dan setiap langkah membawa barokah.
