Tempat Makan Sahur Sekitar Masjid Sheikh Zayed Solo Paling Ramai & Buka Dini Hari

Tempat Makan Sahur Sekitar Masjid Sheikh Zayed Solo: Kebiasaan Dini Hari yang Tidak Pernah Sepi

Di Solo, sahur bukan sekadar makan sebelum imsak. Ia seperti janji lama yang terus ditepati kota kepada warganya. Ketika lampu jalan meredup pelan dan udara mulai menurunkan nada bicaranya, orang-orang justru keluar rumah. Bukan karena lapar saja, tetapi karena suasana memanggil.

Tempat Makan Sahur Sekitar Masjid Sheikh Zayed Solo

Masjid Sheikh Zayed punya ritmenya sendiri. Seusai qiyamul lail, langkah jamaah tidak langsung pulang. Ada yang duduk sebentar di pelataran, ada yang menatap langit, ada juga yang langsung berjalan pelan ke arah warung. Bukan terburu-buru — orang Solo jarang makan dengan tergesa. Mereka menikmati jeda antara malam dan subuh.

Biasanya, obrolan sahur dimulai dari kalimat sederhana: “arepe mangan nang ndi?” Lalu semua berjalan. Tidak perlu rencana panjang. Kota sudah menyiapkan jawabannya.

Kebiasaan Orang Solo: Sahur Itu Ditemani, Bukan Dikejar

Di kota lain mungkin sahur identik dengan alarm keras dan mata masih berat. Namun di sekitar Masjid Sheikh Zayed, sahur terasa seperti kelanjutan malam. Orang datang bukan hanya karena lapar, melainkan karena ingin menutup malam dengan hangat.

Warung-warung tidak perlu berteriak menawarkan menu. Kursi plastik sudah lebih dulu bercerita. Uap nasi naik pelan seperti napas kota yang baru bangun. Sendok beradu piring terdengar lebih jujur daripada musik apa pun.

Anak muda, keluarga, jamaah luar kota — semua duduk berdampingan tanpa canggung. Di sinilah Anda akan merasa bahwa makan bukan aktivitas, tapi kebersamaan yang kebetulan memakai nasi.

Kalau Anda baru pertama kali datang, Anda mungkin mencari daftar tempat. Tapi warga sini biasanya tidak begitu. Mereka mengikuti arus. Lampu yang masih menyala, asap tipis dari dapur, dan suara orang ngobrol pelan — itu sudah cukup jadi penunjuk arah.

Waktu Dini Hari: Kota Berubah Karakter

Jam 01.30 Solo masih malam. Jam 02.30 Solo mulai bercerita. terakhir, Jam 03.00 Solo benar-benar hidup.

Di waktu inilah sahur menemukan bentuknya. Tidak terlalu malam untuk nongkrong, tidak terlalu pagi untuk terburu kerja. Orang menjadi lebih ramah, penjual lebih sabar, pembeli lebih lama duduknya.

Karena itu, banyak yang sengaja menunggu lapar datang, bukan langsung makan. Mereka berjalan dulu, berbincang dulu, lalu baru memesan. Kebiasaan ini sulit dijelaskan kalau belum merasakan sendiri.

Kalau Anda ingin memahami alur kebiasaan itu, biasanya orang membaca cerita pengalaman di
rekomendasi kuliner sahur dekat Masjid Sheikh Zayed
atau mengecek waktu kedatangan pengunjung lewat
jam buka warung makan sahur sekitar Masjid Sheikh Zayed.
Karena di Solo, waktu makan lebih penting daripada sekadar menu.

Saat Makanan Mulai Datang

Menjelang pukul tiga, dapur mulai berbicara lebih jelas. Api kompor seperti sengaja dibesarkan sedikit, seakan tahu orang sudah siap makan.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.

Kuah panas biasanya datang lebih dulu. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Tidak perlu buru-buru dimakan. Banyak orang membiarkannya sebentar, memegang mangkuknya, menghangatkan tangan sebelum perut.

Lalu ada yang ingin sedikit lebih tegas. Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Pedasnya bukan mengejutkan, tapi membangunkan.

Kalau rombongan datang setelah perjalanan jauh, meja sering langsung penuh. Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000). Bukan sekadar makan — biasanya jadi pusat cerita perjalanan malam.

Yang ingin santai memilih sederhana. Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000). Atau sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi). Dimakan pelan sambil mendengar motor lewat satu-satu.

Ada juga yang hanya ingin cukup. Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000). Dan bagi yang benar-benar mengikuti kebiasaan lama: sego gulai malam hari (Rp10.000). Tidak banyak, tapi cukup membawa sampai subuh.

Makan Itu Alasan, Duduk Itu Tujuan

Menjelang imsak, Anda akan melihat perbedaan menarik. Tidak ada yang panik. Tidak ada yang berlari. Bahkan setelah selesai makan, banyak yang tetap duduk. Karena sahur bukan garis finish.

Beberapa orang menghangatkan teh lagi. Ada yang melipat jaket. Ada yang hanya diam, menikmati udara yang mulai berubah warna. Di momen ini, kota seperti menurunkan volumenya, memberi ruang untuk napas terakhir sebelum subuh.

Di meja lain, obrolan perantau biasanya mulai pelan. Mereka membandingkan kota asal dengan Solo, lalu akhirnya diam — karena suasana sulit dibandingkan.

Kenapa Banyak yang Pilih Area Ini

Bukan semata dekat masjid. Tapi karena alurnya pas. Habis ibadah tidak langsung bubar, habis makan tidak langsung pergi. Semua punya jeda.

Tempat makan yang nyaman biasanya menyediakan hal sederhana: parkir luas (bus & elf), mushola, toilet, dan ruang duduk rombongan. Bukan fasilitas mewah, tapi cukup membuat orang tidak tergesa.

Kenyamanan itu yang membuat banyak keluarga sengaja mengajak anaknya sahur di luar. Biar tahu bahwa Ramadan bukan hanya menahan lapar, tapi merasakan kota bersama.

Penutup: Sahur Sebagai Cerita

Kalau Anda datang hanya untuk kenyang, mungkin sahur selesai dalam 10 menit. Tapi kalau Anda datang untuk merasakan Solo, waktu terasa panjang.

Kota ini tidak pernah memaksa Anda makan cepat. Ia mengajak Anda duduk lebih lama. Dan kadang, justru di sela menunggu adzan, kita menemukan bagian Ramadan yang paling tenang.

Kami doakan semoga setiap langkah sahur Anda diberi kesehatan, hati yang lapang, dan rezeki yang barokah. Semoga perjalanan Anda selalu dipertemukan dengan orang baik dan meja makan yang hangat.

Jika suatu malam Anda butuh tempat berhenti, tempat berbagi cerita, atau sekadar ingin merasakan sahur seperti warga lama, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222.

Siapa tahu dari satu mangkuk hangat itu, Anda tidak hanya kenyang — tapi juga pulang membawa cerita.

Dan bila ingin mengenal lebih jauh budaya makan malam kota ini, Anda bisa membaca juga
Sate kambing solo terkenal
yang sudah lama jadi bagian perjalanan rasa banyak orang di Solo.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *