Tempat Makan di Gilingan Dekat Masjid Zayed Buka Malam Hari: Cara Orang Solo Menutup Hari dengan Hangat
Kalau Anda tanya ke kami, “kalau orang Solo biasanya makan malam di mana setelah dari Masjid Zayed?”, jawabannya tidak langsung menyebut nama tempat. Orang Solo selalu memulai dari waktu. Karena malam punya rasa sendiri. Dan rasa itu berbeda dari siang.
Tempat makan di Gilingan dekat Masjid Zayed buka malam hari bukan sekadar soal jam buka sampai larut. Ia soal suasana. Ia soal langkah yang melambat setelah Isya. Ia soal perut yang kembali berbicara setelah seharian perjalanan.
Di Gilingan, malam turun dengan cara yang santun. Lampu-lampu warung menyala satu per satu. Asap dapur naik seperti doa yang tidak pernah putus. Dan orang-orang datang tanpa tergesa, seolah kota ini memberi isyarat: duduklah dulu, jangan buru-buru pulang.
Malam Itu Waktunya Mengendurkan Bahu
Orang Solo jarang makan malam dengan terburu-buru. Biasanya setelah Isya, kami duduk dulu. Mengobrol. Menarik napas. Lalu baru memesan.
Karena itu, tempat makan di Gilingan dekat Masjid Zayed buka malam hari sering terasa lebih hangat daripada siang. Tidak terlalu riuh. Tidak terlalu padat. Percakapan terdengar lebih jujur.
Kalau Anda ingin memahami bagaimana siang hari di kawasan ini berjalan sebelum masuk ke suasana malam, Anda bisa membaca juga halaman
tempat makan enak di Gilingan dekat Masjid Zayed yang paling sering didatangi jamaah. Dari situ Anda akan melihat bagaimana malam menjadi lanjutan yang lebih tenang.
Setelah Isya: Hangat Lebih Dicari daripada Ramai
Setelah Isya, tubuh biasanya mencari yang hangat. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi) terasa berbeda ketika dinikmati malam hari. Kuahnya seperti menyelimuti, bukan sekadar mengenyangkan.
Kalau siang rasanya terasa lebih aktif, malam membuat kuah terasa lebih dalam. Anda menyeruput pelan, lalu lelah perjalanan seperti luruh sedikit demi sedikit.
Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi) juga punya karakter berbeda saat malam. Pedasnya terasa lebih hidup, seperti membangunkan semangat yang mulai redup.
Rombongan Datang Bergantian
Banyak rombongan tiba justru setelah Isya. Mereka selesai kegiatan, lalu mencari tempat makan di Gilingan dekat Masjid Zayed buka malam hari yang tetap nyaman.
Di waktu seperti ini, parkir luas menjadi penolong. Bus maupun elf bisa parkir dengan tenang. Sopir tidak perlu memutar terlalu jauh. Rombongan turun tanpa wajah tegang.
Kalau Anda ingin melihat secara khusus bagaimana tempat makan yang menyediakan parkir luas untuk bus dan mobil besar di kawasan ini bekerja, Anda bisa membaca pembahasan lengkapnya di
tempat makan di Gilingan dekat Masjid Zayed dengan parkir luas untuk bus & mobil besar. Karena kenyamanan dimulai sejak kendaraan berhenti.
Makan Malam Tidak Harus Berat, Tapi Harus Cukup
Orang Solo biasanya tidak langsung memesan banyak saat malam. Kami mulai dari yang sederhana. Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000) sering menjadi pembuka yang pas. Dagingnya terasa menyatu, seperti obrolan yang mulai cair.
Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) terasa bersih dan tidak berlebihan. Ia seperti teman lama yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menenangkan.
Kalau ingin lebih lengkap namun tetap ringan, oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) sering menjadi pilihan rombongan yang ingin praktis.
Dan kalau Anda termasuk yang suka makan lebih larut, bahkan mendekati tengah malam, Anda bisa membaca juga pengalaman makan malamnya di
tempat makan enak di Gilingan dekat Masjid Zayed yang buka sampai larut malam. Karena ada kalanya lapar datang setelah jam sembilan.
Suasana yang Tidak Bisa Diburu
Malam membuat suasana lebih intim. Lampu kuning memantulkan bayangan lembut. Asap dapur naik perlahan. Suara kendaraan tidak terlalu ramai.
Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Asap itu seperti menyambut siapa pun yang datang tanpa memaksa.
Lokasi parkir luas membuat rombongan merasa aman. Di dalamnya ada mushola untuk yang ingin beribadah. Ada juga toilet yang bersih. Jadi rombongan bisa makan tanpa rasa khawatir. Fokusnya selalu pada kenyamanan pengunjung.
Kalau Anda ingin memastikan tempat sebelum datang malam-malam bersama rombongan, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222. Biasanya dijawab dengan ramah dan jelas.
Perbedaan Rasa Siang dan Malam
Siang hari membuat rasa terasa cepat. Malam membuat rasa terasa pelan. Tengkleng di siang hari terasa menguatkan tenaga. Tengkleng di malam hari terasa menenangkan pikiran.
Rica-rica di siang hari terasa membangkitkan semangat. Rica-rica di malam hari terasa seperti penghangat yang membungkus tubuh.
Itulah kenapa orang Solo tidak sekadar mencari tempat makan di Gilingan dekat Masjid Zayed buka malam hari. Kami mencari suasana yang pas dengan waktu.
Menutup Hari dengan Syukur
Makan malam di Gilingan bukan hanya soal kenyang. Ia soal kebersamaan. Ia soal duduk lebih lama tanpa melihat jam.
Kami mendoakan semoga setiap langkah Anda menuju meja makan selalu dalam keadaan sehat. Semoga perjalanan Anda lancar. Semoga rezeki Anda diluaskan dan setiap suapan membawa keberkahan.
Dan semoga setiap malam yang Anda habiskan di sekitar Masjid Zayed menjadi kenangan hangat yang penuh barokah.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram
