SOLO ATAU SURAKARTA persamaan dan perbedaannya?

SOLO ATAU SURAKARTA menjadi dua nama penyebutan untuk kota yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah ini. Banyak yang bingung dengan dua nama ini. Biasanya mereka kebingunan untuk memastikan mana yang benar untuk menyebut nama kota yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Walikota F. X. Hadi Rudyatmo dan Wakilnya Achmad Purnomo ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penyebutan Solo maupun Surakarta. Karena dua nama tersebut sama-sama benar untuk menyebutkan nama kota yang juga mempunyai julukan sebagai Kota Bengawan ini.

SOLO ATAU SURAKARTA persamaan dan perbedaannya

Tentang situs kami lainnya bisa lihat di layanan aqiqah, kuliner solo dan jual kain batik.

Sejarah SOLO ATAU SURAKARTA

Kota Surakarta awalnya adalah bagian dari sebuah kerajaan Islam yakni Kerajaan Mataram. Bahkan kota ini sempat menjadi pusat dari pemerintahan kerajaan tersebut. Tetapi, karena adanya perjanjian Giyanti yang terjadi pada 13 Februari 1755 kerajaan Islam Mataram akhirnya pecah menjadi dua yakni di Yogyakarta yang dikenal dengan Kasultanan Yogyakarta dan juga Kasunanan Surakarta.

Secara resmi istana Mataram yang baru dinamakan Keraton Kasunanan Surakarta dan mulai ditempati pada 17 Februari 1745. Tanggal itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Surakarta. Kemudian pada tahun 1767 karena adanya perjanjian Salatiga. Perjanjian ini membuat, Keraton Kasunanan Surakarta kembali terpecah menjadi dua yakni Kasunanan dan Mangkunegaran.

Sedangkan untuk nama Solo berasal dari kata Sala yang merupakan satu dari tiga dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II. Pemilihan nama ini tidaklah sembarangan, karena sudah melalui pertimbangan dan adanya saran dari sejumlah tokoh penting seperti Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff. Nama tersebut tidak lain adalah nama pohon suci asal India yang bernama asli sala Shorea robusta.

Tetapi pada beberapa sumber menyebutkan bahwa nama Sala berasal dari seorang tokoh yang bernama Ki Gede Sala. Tokoh tersebut disebut-sebut menjadi asal mula berdirinya Kota Sala yang akhirnya dikenal dengan penyebutan Kota Solo. Bahkan setiap peringatan hari jadi Kota Solo, jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berziarah di makam Ki Gede Sala yang berada Ki Dalem Mloyokusuman, RT 1/12 Baluwarti, Pasar Kliwon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.