Sejarah Dawet Selasih Pasar Gede Solo: Dari Akar Tradisi ke Ikon Rasa Kota Bengawan.
Kalau minuman bisa bernyanyi, mungkin Dawet Selasih Pasar Gede Solo akan bersenandung saat pagi tiba — menyapa setiap pengunjung pasar dengan nada yang sudah familiar selama puluhan tahun. Minuman legendaris ini bukan sekadar es serut dengan cendol dan santan, tapi juga cerita panjang tentang tradisi, kreativitas kuliner, dan kelanggengan rasa yang tak lekang oleh waktu.
Dalam artikel ini, kami membawa anda menelusuri asal usul dan sejarah dawet selasih yang kini menjadi salah satu ikon kuliner Kota Solo.
Akar Dawet Selasih di Pasar Gede Solo
Asal mula Dawet Selasih di Pasar Gede bisa ditarik ke masa ketika Pasar Gede Hardjonagoro sendiri pertama kali dibangun, yaitu sekitar tahun 1930. Pasar yang megah dan penuh karakter ini tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tapi juga panggung bagi ragam kuliner khas Solo untuk berkembang dan dikenal banyak orang. :contentReference[oaicite:0]{index=0}
Salah satu pelopornya adalah usaha dawet yang kemudian dikenal sebagai Dawet Telasih Bu Dermi. Menurut penuturan generasi penerusnya, pendiri usaha dawet ini adalah Harjo Sumini (dikenal sebagai Mbah Jo), yang pertama kali memperkenalkan versi dawet dengan tambahan selasih di dalamnya — sebuah inovasi yang kemudian memberi ciri tersendiri pada minuman ini dibandingkan dengan dawet lain di Jawa. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
Mengapa Disebut Dawet Selasih?
Nama “selasih” merujuk pada biji selasih (basil seeds) yang menjadi salah satu ciri khas minuman ini. Dawet Pasar Gede pada umumnya terdiri dari cendol hijau, santan, gula cair, bubur sumsum, tape ketan hitam, dan es serut. Penambahan selasih membuat tekstur minuman ini unik — renyah di luar, lunak di dalam — dan memberi sensasi dingin yang menyentuh setiap lapisan lidah. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Inilah yang kemudian membedakan Dawet Selasih Solo dengan dawet dari daerah lain. Di Solo, minuman ini bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang pengalaman menikmati setiap lapis bahan yang berpadu dalam satu mangkuk. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Transformasi dari Dawet Pasar Biasa jadi Kuliner Legendaris
Seiring berjalannya waktu, Dawet Selasih di Pasar Gede tidak hanya mengandalkan cita rasa. Keberadaannya mulai menarik perhatian wisatawan dari luar Solo, sehingga pelanggannya bukan hanya warga lokal, tetapi juga penikmat kuliner dari luar daerah yang datang khusus untuk mencicipi minuman ini. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
Perjalanan dawet ini juga mencerminkan evolusi kecil di dunia kuliner Solo: dari minuman sederhana di pasar tradisional, ia berkembang menjadi ikon yang sering disebut saat orang membicarakan Pasar Gede Solo Food Tour.
Dawet Selasih di Tengah Ritme Pasar Gede
Pasar Gede Hardjonagoro sendiri sudah berdiri sejak era kolonial dan menjadi pusat kehidupan warga Solo, tak terkecuali aktivitas kuliner. Sejak pagi, suara langkah kaki, suara pedagang, dan aroma masakan menyatu menjadi simfoni khas pasar. Dawet Selasih hadir sebagai jeda segar di tengah kebisingan itu — laksana napas dingin yang menyegarkan suasana. :contentReference[oaicite:5]{index=5}
Minuman ini bahkan pernah disebut jadi kuliner wajib ketika seseorang berkunjung ke Solo—rasa yang tak sekadar manis, tapi juga membawa jejak rasa masa lalu. :contentReference[oaicite:6]{index=6}
Pelestarian & Warisan Generasi ke Generasi
Meskipun banyak penjual dawet yang kini bermunculan di Pasar Gede, beberapa nama seperti Dawet Telasih Bu Dermi tetap menjadi favorit karena mempertahankan cara tradisional dalam meracik bahan — tanpa pengawet, dengan santan dan sirup gula yang berhati-hati diukur jumlahnya demi menjaga keseimbangan rasa. :contentReference[oaicite:7]{index=7}
Ini bukan sekadar resep—ini adalah warisan keluarga yang dipertahankan dari generasi ke generasi di tengah dunia kuliner yang terus bergerak dan berubah.
Mencicipi Sejarah dalam Setiap Suapan Dawet
Saat anda menyeruput Dawet Selasih di Pasar Gede, anda juga sedang mencicipi jejak waktu. Seolah setiap bahan itu punya cerita sendiri: cendol hijau yang renyah menanti, tape ketan hitam yang berbisik lembut tentang kenangan masa kecil, dan santan yang membawa rasa pulang ke rumah nenek di Solo.
Minuman ini bukan hanya minuman — ia adalah saksi bisu perjalanan rasa Solo dari masa ke masa.
Dari Dawet Selasih ke Jejak Kuliner Lainnya
Kalau anda ingin melanjutkan petualangan kuliner di Pasar Gede setelah mencicipi sejarah dawet selasih, coba juga:
- Dawet Selasih Pasar Gede Solo — versi lengkapnya!
- Wisata Kuliner Pasar Gede Solo
- Kuliner Hits Pasar Gede Solo
Dan ketika perut sudah kenyang dengan semua petualangan rasa itu, jangan lupa kami juga punya rekomendasi nikmat lain seperti warung tengkleng solo yang siap menutup hari anda dengan kuah rempah hangat serta daging kambing yang empuk.
Sejarah Dawet Selasih Pasar Gede Solo bukan sekadar angka dan tanggal — ia hidup dalam setiap tegukan yang membuat anda ingin bilang, “Lagi…”
