Ngopi Dekat Masjid Zayed Sekalian Makan Kuliner Legendaris Gilingan

Ngopi Dekat Masjid Zayed Sekalian Kuliner Legendaris Gilingan: Begini Cara Orang Solo Menyatukan Kopi dan Rasa dalam Satu Malam

Kalau Anda keluar dari Masjid Raya Sheikh Zayed setelah tarawih dan berhenti sebentar di halaman, Anda akan melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jamaah berjalan pelan. Anak-anak masih bercanda kecil. Lampu-lampu jalan menyala seperti ikut menjaga ketenangan.

Biasanya di momen seperti itu, orang Solo tidak langsung pulang. Mereka saling menoleh dan bertanya ringan, “Ngopi sek?” Namun pertanyaan itu jarang berhenti di kopi saja. Karena sejak dulu, kebiasaan warga sini adalah ngopi dekat Masjid Zayed sekalian kuliner legendaris Gilingan.

Bukan karena ingin banyak pilihan. Tetapi karena malam terasa lebih lengkap ketika kopi dan makanan duduk bersama di satu meja.

Kebiasaan Orang Solo: Duduk Dulu, Baru Memutuskan

Kalau Anda bertanya, “Kalau orang Solo biasanya gimana?” jawabannya sederhana. Mereka tidak buru-buru memesan banyak. Mereka duduk dulu. Mengatur napas. Menurunkan suara.

Biasanya sekitar pukul 20.30 sampai 21.00 suasana mulai lebih nyaman. Arus jamaah sudah menyebar. Kendaraan tidak terlalu padat. Di waktu seperti itu, Anda bisa memilih tempat duduk tanpa merasa dikejar.

Kalau Anda ingin suasana yang lebih mengarah ke makanan klasik setelah ngopi, Anda bisa membaca juga perpaduan ngopi santai dan kuliner legendaris setelah tarawih di Gilingan. Biasanya orang Solo memang tidak memisahkan keduanya.

Ngopi Itu Awal Percakapan

Di sekitar Gilingan, beberapa tempat sering dipilih karena dekat dari masjid. MAJAPAHIT COFFEE & EATERY di Jl. Majapahit IV No.8a misalnya, sering menjadi tempat keluarga duduk bersama. Bangunan joglonya seperti menyambut pelan.

Ada juga yang memilih The Hidden Swargi Coffee Roastery di Jl. Jageran No.1. Suasananya lebih teduh. Pepohonan berdiri seperti menjaga obrolan tetap tenang.

Namun setelah dua atau tiga tegukan kopi, biasanya percakapan berubah arah. Perut ikut berbicara. Dan di situlah makanan legendaris mulai dipanggil ke meja.

Perbedaan Rasa yang Perlu Anda Rasakan Sebelum Memilih

Kalau malam terasa dingin atau habis hujan, orang Solo cenderung memilih makanan berkuah. Kuah hangat seperti memeluk tenggorokan.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Rasanya dalam dan pelan, cocok untuk suasana yang lebih hening.

Sementara rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Pedasnya terasa tegas, cocok ketika obrolan di meja sedang ramai dan penuh tawa.

Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000). Teksturnya padat dan menyatu. Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi), biasanya dipilih kalau Anda ingin rasa yang lebih ringan.

Kalau rombongan datang bersama, kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) sering menjadi pusat perhatian meja. Bukan soal banyaknya, tetapi soal kebersamaan yang mengitarinya.

Parkir luas tersedia. Bus maupun elf bisa parkir dengan mudah. Di dalamnya ada mushola dan toilet bersih. Jadi cocok untuk rombongan. Fokusnya memang pada kenyamanan konsumen supaya Anda tidak merasa repot setelah ibadah.

Kalau Anda ingin memahami lebih jauh karakter sate yang sudah lama dikenal warga, Anda bisa membaca juga Sate kambing solo terkenal. Aromanya seperti berbicara lembut bahkan sebelum Anda menyentuhnya.

Kalau Ingin Tetap Ramah di Kantong

Ada juga yang memilih suasana lebih sederhana dan ringan. Biasanya mereka tetap ngopi, tetapi makan secukupnya saja.

Untuk pilihan yang lebih hemat namun tetap hangat suasananya, Anda bisa melihat pilihan ngopi plus kuliner malam murah setelah tarawih. Karena di Solo, murah bukan berarti kehilangan rasa.

Pertanyaan yang Sering Muncul di Meja

Ada yang bertanya, “Kalau mau yang di bawah dua puluh ribu?” Anda bisa membaca rekomendasi tempat ngopi murah di Gilingan setelah tarawih di bawah 20 ribu.

Ada juga yang bertanya, “Kalau mau yang buka sampai tengah malam supaya bisa duduk lebih lama?” Anda bisa melihat cafe di Gilingan yang buka sampai tengah malam setelah tarawih.

Waktu Terbaik Menurut Kebiasaan Lokal

Biasanya waktu paling pas untuk ngopi dekat Masjid Zayed sekalian kuliner legendaris Gilingan adalah setelah arus jamaah mulai berkurang. Jangan terlalu cepat supaya tidak terlalu ramai. Jangan terlalu malam supaya tenaga tidak habis.

Sekitar pukul 21.00 sering menjadi titik yang nyaman. Namun kalau Anda ingin suasana lebih lengang, datang sedikit lebih malam juga terasa enak.

Menutup Malam dengan Tenang dan Penuh Syukur

Pada akhirnya, ngopi dekat Masjid Zayed sekalian kuliner legendaris Gilingan bukan sekadar soal kopi atau menu. Ia adalah kebiasaan. Ia adalah cara orang Solo merapikan malam sebelum pulang.

Kalau Anda datang bersama rombongan dan ingin memastikan tempat lebih dulu, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222 supaya tidak perlu menunggu lama.

Kami mendoakan semoga Anda selalu sehat, rezeki dilancarkan, dan setiap langkah Anda menuju masjid maupun menuju meja makan dipenuhi keberkahan. Semoga setiap suapan menjadi penguat tubuh dan pembuka pintu barokah.

Karena memang, ketika kopi dan makanan duduk bersama setelah tarawih, malam tidak lagi terasa panjang. Ia terasa cukup. Dan ketika Anda pulang dengan hati ringan, di situlah malam Anda benar-benar selesai dengan indah.

Ngopi Dekat Masjid Zayed Sekalian Makan Kuliner Legendaris Gilingan
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *