Nasi Liwet Malam Solo Dekat Masjid Sheikh Zayed: Kenapa Orang Lokal Memilihnya Saat Sahur
Kalau Anda habis dari Masjid Sheikh Zayed lalu merasa perut belum benar-benar meminta makan berat, biasanya orang Solo tidak langsung mencari daging dulu. Kami justru berjalan pelan, melihat warung mana yang asapnya tipis dan nasinya baru dibuka dari kukusan. Di momen seperti itu, nasi liwet malam sering jadi jawaban tanpa perlu disepakati.
Orang luar kadang mengira nasi liwet itu makanan biasa. Padahal bagi kami, nasi liwet itu seperti pembuka percakapan sebelum sahur sungguhan. Ia tidak datang untuk membuat kenyang duluan, tapi menyiapkan perut supaya siap menerima malam.
Kalau Anda ingin memahami alur besarnya, biasanya orang melihat dulu cerita di
tempat makan sahur sekitar Masjid Sheikh Zayed
supaya tahu kenapa makanan pertama di Solo sering bukan yang paling berat.
Kenapa Tidak Langsung Makan Berat?
Di Solo, sahur bukan lomba isi perut. Banyak orang justru takut terlalu kenyang sebelum subuh. Kalau langsung makan berat, badan terasa berat juga. Maka nasi liwet hadir seperti orang yang mengerti situasi — ia cukup, tapi tidak memaksa.
Biasanya setelah ibadah malam, tubuh masih hangat. Kalau langsung makan santan pekat atau daging banyak, perut seperti kaget. Maka nasi liwet datang dulu. Rasanya menenangkan, bukan membangunkan.
Itulah sebabnya sebelum memilih menu lain orang sering mencari
kuliner sahur dekat Masjid Sheikh Zayed
yang ringan lebih dulu.
Karena itu orang Solo juga memperhatikan waktu datang, bahkan banyak yang melihat
jam buka warung sahur Masjid Sheikh Zayed
agar tidak terlalu awal dan tidak terlalu mepet adzan.
Suasana Warung Jam Dua Lewat
Jam dua lewat sedikit, kursi mulai terisi tapi belum padat. Lampu warung seperti tidak ingin terlalu terang. Orang duduk sambil menunggu nasi diaduk. Bahkan suara sendok terdengar pelan, seperti menjaga malam tetap utuh.
Nasi liwet biasanya datang tidak tergesa. Penjual membuka panci pelan, uap naik dulu, baru disendok. Bau santannya tidak menyerang, hanya menyapa.
Banyak jamaah yang memilih makan dekat saja setelah ibadah, biasanya mencari
tempat sahur jalan kaki dari Masjid Sheikh Zayed
supaya tidak perlu memindahkan kendaraan.
Perbedaan Rasa yang Tidak Terlihat
Banyak yang bertanya, apa bedanya nasi liwet malam dengan makan nasi biasa? Bedanya bukan di bahan, tapi di perasaan perut.
Nasi biasa mengisi. Nasi liwet menemani.
Ketika dimakan pelan, ia membuat tubuh siap menerima rasa lain. Maka tidak heran setelah nasi liwet, orang baru memilih arah: mau manis hangat atau gurih berkuah.
Terutama bagi yang selesai ibadah panjang, pilihan makan biasanya berbeda seperti dibahas pada
sahur habis qiyamul lail di Masjid Sheikh Zayed.
Momen Setelah Beberapa Suap
Biasanya obrolan baru benar-benar mulai setelah tiga atau empat suap. Sebelumnya orang masih diam, seperti memberi kesempatan tubuh bangun perlahan.
Ada yang baru cerita perjalanan, ada yang baru bercanda. Bahkan anak kecil pun biasanya baru aktif setelah makan sedikit.
Nasi liwet bukan membuat kenyang, tapi membuka pagi.
Ketika Malam Mendekati Subuh
Menjelang setengah tiga, sebagian orang berhenti. Bukan habis, tapi cukup. Mereka menunggu beberapa menit, baru menentukan lanjut atau tidak.
Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Banyak yang awalnya makan ringan dulu sebelum akhirnya memilih kuah hangat.
Tempat Singgah yang Dicari Orang
Banyak yang memilih tempat makan bukan karena tampilan, tapi karena nyaman. Parkir luas, bus maupun elf bisa masuk. Di dalamnya ada mushola, ada toilet, dan meja cukup untuk rombongan. Fokusnya bukan dekorasi, tapi membuat orang betah menunggu waktu subuh.
Penutup
Nasi liwet malam bukan sekadar makanan. Ia seperti jeda di tengah malam. Menyiapkan perut, menenangkan pikiran, lalu mengantar sahur menjadi ringan.
Kami doakan semoga setiap sahur Anda diberi kesehatan, hati lapang, dan rezeki barokah.
Bila suatu malam Anda butuh tempat berhenti dan berbagi cerita, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222.
Dan bila ingin mengenal lebih jauh perjalanan rasa malam kota ini, Anda bisa membaca
Sate kambing solo terkenal
yang berbicara lembut lewat aroma yang tak sabar menyapa.
