Kuliner Sahur On The Road Solo: Dari Angkringan Sampai Tengkleng Hangat yang Dicari Menjelang Subuh
Mendekati pukul dua pagi, Solo biasanya memasuki bab paling tenang dari ceritanya. Jalanan tidak kosong, tetapi juga tidak tergesa. Motor melintas pelan, lampu toko sebagian redup, dan beberapa warung justru baru membuka mata. Inilah waktu ketika kuliner Sahur On The Road Solo mulai benar-benar terasa.
Banyak orang beranggapan sahur cukup makan apa saja sebelum imsak. Namun setelah beberapa malam berkeliling, Anda akan sadar: sahur bukan hanya soal kenyang. Ia soal suasana. Soal tempat yang membuat tubuh siap menyambut pagi.
Kalau Anda ingin memahami gambaran besar tradisi ini dulu, Anda bisa membaca panduan lengkap Sahur On The Road Solo sebelum menentukan tujuan kuliner malam Anda.
Kenapa Mencari Kuliner Saat Sahur Tidak Bisa Sembarangan
Saat dini hari, tubuh bekerja berbeda. Perut tidak siap menerima makanan terlalu berat, tetapi juga tidak cukup dengan camilan ringan. Karena itu warga Solo punya kebiasaan memilih makanan hangat berkuah atau daging empuk yang tidak membuat perut kaget.
Anda mungkin pernah mencoba makan gorengan terlalu banyak saat sahur — hasilnya cepat lapar di siang hari. Sebaliknya, makanan berkuah memberi tenaga lebih stabil.
Karena itulah kuliner sahur di Solo selalu punya pola: sederhana, hangat, dan tidak berisik di perut.
Angkringan: Pembuka Cerita Malam
Banyak perjalanan sahur dimulai dari angkringan. Bukan untuk kenyang, melainkan untuk memulai obrolan. Nasi kucing, sate usus, dan teh panas menjadi alasan duduk pertama sebelum bergerak.
Namun jarang orang berhenti sampai di situ. Sekitar satu jam kemudian, perut mulai benar-benar meminta makan.
Di titik inilah orang mulai mencari hidangan utama.
Masakan Berkuah: Pemenang Setiap Ramadan
Di Solo, pilihan biasanya jatuh pada soto, tongseng, atau tengkleng. Makanan jenis ini seperti tahu kapan harus datang — hangatnya tidak memaksa, tetapi cukup membangunkan.
Banyak rombongan sengaja berjalan pelan agar rasa lapar muncul tepat di tempat makan, bukan di perjalanan.
Beberapa orang bahkan punya prinsip: sahur terbaik adalah sahur yang ditutup dengan kuah panas.
Ketika Perjalanan Berakhir di Tengkleng
Ada satu pola menarik. Banyak orang tidak langsung menuju warung kambing. Mereka keliling dulu, baru berhenti menjelang subuh. Seolah tengkleng menjadi garis akhir perjalanan.
Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.
Aromanya sampai ke jalan sebelum papan namanya terbaca. Motor melambat bukan karena macet, tetapi karena perut tiba-tiba ingat waktu makan.
Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Rasanya ringan tapi menetap lama.
Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi) — biasanya dipilih mereka yang ingin benar-benar bangun sebelum subuh.
Jika datang ramai, satu meja sering memesan kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000). Obrolan otomatis bertambah panjang karena makan tidak bisa terburu-buru.
Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000) sering jadi pembuka sebelum kuah datang.
Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) cocok bagi yang ingin ringan tapi tetap bertenaga.
Ada juga pilihan cepat seperti oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000).
Dan beberapa pelanggan setia selalu mencari sego gulai malam hari (Rp10.000).
Bila Anda ingin mengenal lebih jauh karakter sate khas kota ini, Anda bisa membaca Sate kambing solo terkenal.
Kenapa Banyak Rombongan Memilih Kambing Saat Sahur
Ada alasan kenapa kambing sering menjadi pilihan terakhir sebelum imsak. Kandungan proteinnya cukup menjaga energi tanpa membuat perut berat jika dimasak dengan benar.
Kami membahasnya lebih lengkap di alasan orang memilih tengkleng saat Sahur On The Road Solo.
Memilih Waktu Datang yang Tepat
Datang terlalu awal membuat perut belum siap. Datang terlalu akhir membuat Anda terburu imsak.
Biasanya waktu paling pas sekitar pukul 01.30 – 02.30. Suasana santai, makanan matang, dan Anda masih punya waktu menikmati teh panas.
Detailnya bisa Anda baca di jam terbaik memulai Sahur On The Road Solo.
Menentukan Jalur Kuliner Malam
Solo bukan kota besar, tetapi rasa lapar bisa terasa jauh jika salah arah. Karena itu rute perjalanan lebih penting daripada jumlah tempat yang dikunjungi.
Sebaiknya pilih jalur yang mengalir: nongkrong → lapar → makan → istirahat → subuh.
Contoh jalurnya bisa Anda lihat di rute Sahur On The Road Solo yang ramai.
Tempat yang Nyaman Lebih Penting dari Menu
- Parkir luas (bus & elf)
- Mushola
- Toilet
- Cocok rombongan
- Fokus kenyamanan pengunjung
Jika datang bersama rombongan dan ingin memastikan tempat siap, Anda bisa menghubungi WhatsApp: 0822 6565 2222 sebelum berangkat.
Penutup
Pada akhirnya kuliner Sahur On The Road Solo bukan tentang mencari tempat paling terkenal, tetapi tempat yang membuat Anda ingin duduk sedikit lebih lama.
Kami berdoa semoga sahur Anda selalu diberi kesehatan, kenyamanan, dan keberkahan.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram
