Kuliner Sahur Dekat Masjid Sheikh Zayed Solo: Ikut Ritme Orang Lokal Menutup Malam
Kalau Anda datang ke Solo saat Ramadan lalu bertanya, “sahur enaknya di mana dekat Masjid Sheikh Zayed?”, biasanya orang sini tidak langsung menyebut nama tempat. Kami justru balik bertanya, “sampe jam piro?”
Karena di Solo, sahur bukan soal lokasi dulu, tapi waktu. Jam menentukan suasana, suasana menentukan makanan. Beda datang jam satu, beda datang jam tiga kurang seperempat. Kota punya wataknya sendiri tiap menit menjelang subuh.
Masjid Sheikh Zayed itu seperti pusat napas malam. Seusai ibadah, jamaah keluar pelan. Tidak bubar seperti konser. Lebih mirip air yang mengalir mencari jalan pulang — sebagian pulang ke rumah, sebagian lagi pulang lewat warung.
Kalau Anda ingin memahami gambaran besarnya dulu, biasanya orang membaca cerita lengkapnya di
tempat makan sahur sekitar Masjid Sheikh Zayed.
Di situ baru kelihatan kenapa orang tidak buru-buru pulang setelah masjid.
Jam 01.30 – Masih Nongkrong, Belum Sahur
Pada jam segini, perut sebenarnya belum lapar. Tapi kursi warung sudah mulai terisi. Anak muda duduk lama, keluarga ngobrol pelan, perantau menatap jalan. Mereka datang bukan untuk makan dulu, melainkan menunggu rasa lapar datang dengan wajar.
Di Solo, makan terlalu cepat itu seperti membaca buku langsung halaman terakhir. Tidak nikmat.
Biasanya yang dipesan minuman dulu. Teh panas, wedang jahe, atau air hangat saja. Pembicaraan mengalir ringan: jalanan, cuaca, perjalanan. Warung seperti ruang tamu bersama.
Kota juga ikut duduk. Motor lewat satu-satu. Angin malam menyelip di sela kursi. Bahkan lampu neon terlihat lebih sabar.
Jam 02.15 – Perut Mulai Mencari Hangat
Ini waktu peralihan. Orang mulai melirik dapur. Sendok mulai berbunyi. Tidak semua langsung makan berat. Biasanya cari yang berkuah dulu.
Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.
Kuah hangat seperti membuka percakapan baru. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Banyak yang tidak langsung menghabiskan. Dipegang dulu mangkuknya, tangan ikut hangat, baru diseruput pelan.
Kalau habis perjalanan jauh, kadang rombongan memilih duduk lebih rapat. Obrolan jadi panjang, cerita jalanan ikut masuk ke meja.
Jam 02.45 – Waktu Makan Sungguhan
Di jam inilah Solo benar-benar sahur. Jalanan mulai ada arah. Orang yang tadi duduk lama mulai memesan nasi.
Pada tahap ini biasanya orang mulai menentukan pilihan.
Ada yang mencari makan berkuah ringan seperti
nasi liwet malam dekat Masjid Sheikh Zayed,
ada juga yang sengaja menuju rasa manis hangat lewat
gudeg ceker Margoyudan untuk sahur.
Pilihan bukan soal enak atau tidak, tapi cocok waktunya atau tidak.
Beberapa ingin rasa lebih tegas. Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Pedasnya bukan marah, tapi membangunkan.
Yang datang berempat atau lebih biasanya memesan tengah meja. Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000). Bukan untuk kenyang saja, tapi supaya semua ikut mengambil. Di Solo, sahur terasa lebih sah kalau makan bareng.
Ada juga yang tetap sederhana. Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000). Cukup, tidak berlebihan, tapi membuat perjalanan subuh terasa ringan.
Jam 03.15 – Menikmati, Bukan Mengejar
Menjelang imsak, orang Solo justru lebih pelan makannya. Tidak terburu-buru. Banyak yang berhenti sebentar di tengah makan untuk ngobrol.
Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000). Dimakan pelan sambil melihat langit mulai pucat.
Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) biasanya jadi teman obrolan terakhir sebelum doa penutup sahur.
Kalau Anda datang hanya untuk kenyang, mungkin Anda akan heran kenapa orang berhenti makan padahal waktu masih ada. Tapi di sini, sahur bukan lomba melawan adzan.
Jam 03.40 – Penutup Ringan
Sebelum benar-benar selesai, biasanya orang mencari yang ringan. Bukan lapar lagi, tapi seperti tanda selesai.
Sego gulai malam hari (Rp10.000) sering jadi penutup. Sedikit tapi pas. Setelah itu teh hangat datang. Lalu hening beberapa detik — kota seperti ikut berdoa.
Sementara yang datang paling akhir biasanya mencari yang masih bertahan sampai menjelang adzan, seperti
tengkleng malam dekat Masjid Sheikh Zayed yang buka sampai subuh,
karena waktunya memang baru longgar di akhir malam.
Tempat Bukan Tujuan, Kenyamanan yang Dicari
Di sekitar masjid, orang jarang memilih karena interior atau foto. Yang penting bisa duduk tenang. Parkir luas (bus & elf), mushola, toilet, dan meja panjang sering jadi alasan keluarga datang lagi.
Rombongan kecil sampai besar bisa duduk tanpa merasa mengganggu orang lain. Bahkan banyak yang sengaja janjian sahur di sini setelah perjalanan luar kota.
Kenyamanan itu membuat makan terasa cukup. Kami sering melihat orang datang lagi bukan karena menunya berubah, tapi karena suasananya tidak berubah.
Kebiasaan Setelah Makan
Selesai makan, orang tidak langsung berdiri. Ada jeda penting. Minum terakhir, tarik napas, lalu bersiap ke masjid lagi.
Di momen itu, obrolan biasanya pendek tapi hangat. Rencana hari ini, perjalanan pulang, atau sekadar candaan ringan.
Kami percaya sahur yang baik bukan yang paling banyak, tapi yang paling tenang.
Kami doakan semoga setiap langkah sahur Anda diberi kesehatan, rezeki yang lapang, dan hati yang barokah. Semoga perjalanan Anda selalu dipertemukan suasana hangat dan orang baik.
Kalau suatu malam Anda butuh tempat berhenti tanpa tergesa, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222. Banyak yang datang bukan karena promosi, tapi karena merasa cocok.
Dan bila ingin mengenal kebiasaan makan malam Solo lebih jauh, biasanya orang juga membaca
Sate kambing solo terkenal
sebagai bagian cerita perjalanan rasa kota ini.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram
