Tengkleng Solo Enak Dekat Masjid Zayed: Hangatnya Kuah, Hangatnya Malam Solo
Di Solo, waktu berjalan sedikit lebih pelan. Lampu jalan menyala seperti kunang-kunang yang pulang kerja, lalu angin malam membawa aroma rempah dari sudut-sudut kota. Ketika Anda selesai berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed, biasanya perut ikut mengingatkan: perjalanan rohani hampir selalu ditemani perjalanan rasa.
Dan di momen itulah tengkleng sering datang seperti sahabat lama. Ia tidak memanggil keras, tapi pelan-pelan mengetuk dari hidung. Harumnya kuah menjemput langkah, bahkan sebelum Anda sadar lapar.
Banyak orang mencari tengkleng solo enak dekat Masjid Zayed bukan sekadar untuk makan. Mereka mencari tempat berhenti. Tempat duduk, berbagi cerita, dan menghangatkan tubuh setelah malam Solo turun perlahan.
Ketika Malam Solo Membuka Nafsu Makan
Selepas adzan Isya, kawasan sekitar masjid berubah suasana. Jamaah keluar dengan wajah lebih ringan. Anak-anak berlari kecil. Pedagang minuman mulai menyusun gelas. Kota seperti baru menarik napas panjang.
Lalu dari kejauhan, aroma kambing matang mengalir di udara. Tidak menusuk, tidak liar — justru halus. Seperti seseorang yang tahu caranya mengetuk pintu tanpa mengganggu.
Tengkleng di Solo memang berbeda. Ia bukan sekadar kuah tulang. Ia adalah cerita dapur lama yang tetap hidup. Bumbu tidak berteriak, tapi berdiskusi pelan dengan lidah.
Karena itu banyak pengunjung setelah dari masjid memilih mencari makan di sekitar area sini. Akses mudah, jalan tidak membuat lelah, dan suasana tetap nyaman untuk keluarga.
Jika Anda ingin tahu pilihan tempat nyaman di sekitar kawasan ini, Anda bisa membaca tempat makan tengkleng dekat Masjid Zayed yang nyaman supaya tidak salah langkah ketika datang bersama rombongan.
Kenapa Tengkleng Selalu Terasa Lebih Nikmat di Dekat Masjid
Mungkin karena perut kosong setelah ibadah membuat rasa jadi jujur.
Atau mungkin karena hati sudah tenang, sehingga lidah lebih peka.
Atau bisa jadi karena Solo memang pandai merawat rasa.
Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Panci tidak hanya mendidih, tapi seperti bercerita pelan tentang waktu. Tentang resep yang tidak ditulis, tapi diwariskan.
Begitu mangkuk datang, kuahnya tampak sederhana. Tapi saat sendok pertama menyentuh bibir, hangatnya langsung merangkul tulang tenggorokan. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Rasanya tidak berat, tidak tajam, tapi tinggal lama di ingatan.
Anda akan sadar: ini bukan makanan cepat kenyang. Ini makanan yang membuat Anda ingin duduk lebih lama.
Tempat Makan Bukan Sekadar Tempat Duduk
Di sekitar Masjid Zayed, pengunjung datang dari berbagai kota. Ada yang naik mobil pribadi, ada rombongan keluarga, bahkan bus wisata.
Karena itu kenyamanan sering lebih penting dari sekadar rasa.
- Parkir luas (bus & elf)
- Mushola
- Toilet bersih
- Cocok rombongan
Saat Anda makan tanpa tergesa-gesa, makanan terasa dua kali lebih enak. Anak-anak bisa duduk tenang, orang tua tidak khawatir, dan perjalanan kuliner berubah menjadi kenangan.
Bukan Hanya Tengkleng
Meski tengkleng jadi bintang utama, dapur Solo jarang berdiri dengan satu cerita saja.
Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Pedasnya tidak marah, tapi menggoda. Ia datang pelan, lalu tinggal lama.
Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000). Lemaknya tidak berisik, justru menenangkan.
Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi). Dagingnya seperti tahu kapan harus menyerah pada gigi.
Bahkan jika Anda ingin yang sederhana, ada Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000). Menu kecil yang sering justru paling membekas.
Dan saat malam semakin larut, Sego gulai malam hari (Rp10.000) sering jadi penutup yang diam-diam dirindukan.
Untuk Anda yang ingin mengenal sate khas Solo lebih jauh, bisa juga membaca Sate kambing solo terkenal karena banyak pengunjung biasanya membandingkan rasa sebelum menentukan favoritnya.
Rombongan, Cerita, dan Meja Panjang
Ada momen yang hanya cocok ditemani makanan berkuah.
Misalnya reuni kecil. Atau keluarga besar yang jarang berkumpul. Atau perjalanan ziarah yang ingin ditutup dengan makan bersama.
Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) sering menjadi pusat meja. Bukan sekadar menu, tapi alasan orang saling menyodorkan sendok.
Di sini percakapan biasanya jadi lebih hangat dari kuahnya.
Makan Malam yang Tidak Ingin Cepat Selesai
Banyak tamu datang setelah pukul delapan malam. Mereka tidak buru-buru pulang. Mereka duduk, memesan teh hangat, lalu membiarkan waktu berjalan tanpa dipaksa.
Malam di Solo tidak pernah terasa kosong. Bahkan sendok yang menyentuh mangkuk seperti ikut berbicara.
Jika Anda ingin tahu waktu terbaik berkunjung, Anda bisa membaca kuliner tengkleng Solo dekat Masjid Zayed siang dan malam supaya pengalaman datang terasa pas.
Kenangan yang Dibawa Pulang
Lucunya, banyak orang mengingat Solo bukan karena gedungnya — tapi karena rasanya.
Mungkin karena makanan berkuah menyimpan waktu.
Mungkin karena aroma rempah lebih setia dari foto.
Atau mungkin karena makan bersama selalu lebih lama hidupnya daripada perjalanan itu sendiri.
Kami percaya makanan terbaik bukan yang paling mahal, tapi yang membuat Anda ingin kembali.
Jika Anda Sedang di Sekitar Masjid Zayed
Anda tidak perlu terburu-buru memilih. Biarkan langkah membawa Anda. Jika hidung Anda menemukan aroma yang lembut dan hangat, biasanya itu petunjuk yang tepat.
Dan bila suatu malam Anda ingin memastikan tempat masih buka atau menyiapkan meja untuk keluarga, Anda bisa menghubungi WhatsApp: 0822 6565 2222.
Kami akan menyiapkan tempat duduk, bukan hanya piring.
Penutup
Akhirnya, makan bukan sekadar kenyang. Ia adalah jeda.
Jeda dari perjalanan, dari lelah, dari pikiran.
Semoga setiap langkah Anda menuju meja makan selalu membawa kebaikan. Semoga hidangan yang Anda santap menjadi tenaga yang sehat, hati yang lapang, dan rezeki yang barokah.
Kami menunggu Anda tidak sebagai pelanggan, tapi sebagai tamu yang suatu hari akan kembali membawa cerita baru.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram







