Sejarah Serabi Notosuman, Oleh-Oleh Khas Solo Sejak Zaman Dulu

Sejarah Serabi Notosuman Solo: Dari Jajanan Kampung Jadi Oleh-Oleh Legendaris.

Kalau ada daftar kuliner legendaris Solo yang nggak pernah sepi pembeli, Serabi Notosuman pasti masuk 3 besar. Jajanan yang satu ini bukan cuma terkenal karena rasanya, tapi juga karena sejarah panjangnya yang bikin kita merasa nostalgia meski baru pertama kali nyobain.

Sejarah Serabi Notosuman Solo

Di artikel ini, kita bakal bahas tuntas sejarah Serabi Notosuman dari awal mula, perjuangan generasi ke generasi, sampai kenapa sekarang jadi oleh-oleh khas Solo yang wajib dibawa pulang. Santai saja bacanya, anggap kita lagi ngobrol sambil ngopi di teras rumah 😄


Asal-Usul Nama Serabi Notosuman

Buat yang belum tahu, nama “Notosuman” itu bukan merk, tapi nama jalan di Kota Solo. Tepatnya di kawasan Laweyan. Di sinilah serabi legendaris ini pertama kali dijual.

Dulu, sekitar tahun 1920-an, ada seorang ibu yang mulai menjajakan serabi buatannya di depan rumah. Awalnya cuma buat warga sekitar, tapi karena rasanya enak, kabarnya menyebar dari mulut ke mulut.

Lama-lama, orang-orang kalau mau beli serabi, nyebutnya:
“Serabi Notosuman”
alias serabi yang dijual di Jalan Notosuman.

Dari situlah nama ini melekat sampai sekarang, bahkan jadi brand kuat di dunia kuliner Solo.


Era Awal: Jualan Pakai Tungku Arang

Di masa awal, serabi dibuat dengan cara super tradisional:

  • Wajan tanah liat kecil
  • Tungku arang
  • Adonan dari tepung beras dan santan murni
  • Tanpa mesin, semua manual

Proses masaknya pelan tapi pasti. Satu per satu. Tidak bisa ngebut. Ini yang bikin teksturnya khas: lembut di tengah, agak kering di pinggir, dengan aroma arang yang wangi.

Sampai sekarang, cara masak ini masih dipertahankan. Jadi kalau kamu ke sana dan antre lama, sabar ya. Itu bukan karena pelayannya leha-leha, tapi memang prosesnya sakral 😆


Generasi ke Generasi: Resep Tidak Berubah

Hal yang bikin Serabi Notosuman tetap eksis adalah konsistensi resep. Dari generasi pertama sampai sekarang, resepnya hampir tidak berubah.

Tidak ada:

  • Pengawet
  • Pemanis buatan
  • Pewarna makanan

Semuanya masih alami. Santan segar, gula asli, dan tepung beras pilihan.

Inilah yang bikin rasa Serabi Notosuman selalu sama, mau beli tahun ini atau 10 tahun lalu.


Dari Jajanan Kampung Jadi Oleh-Oleh Nasional

Awalnya cuma jajanan kampung, sekarang:

  • Masuk TV nasional
  • Diliput YouTuber kuliner
  • Direview food vlogger
  • Masuk daftar oleh-oleh khas Solo

Bahkan banyak wisatawan dari luar kota rela antre berjam-jam demi membawa pulang serabi ini.

Kalau kamu belum baca artikel pilarnya, wajib mampir ke sini dulu:
👉 Serabi Notosuman Oleh-Oleh Khas Solo


Perkembangan Varian Rasa

Dulu cuma ada:

  • Original polos

Sekarang berkembang jadi:

  • Coklat
  • Keju
  • Pisang
  • Coklat keju

Meski begitu, varian original tetap paling laris. Karena di situlah rasa tradisionalnya benar-benar terasa.

Detail varian bisa dibaca di:
👉 Varian Rasa Serabi Notosuman


Kenapa Tetap Pakai Wajan Tanah Liat?

Banyak yang bertanya, kenapa nggak pakai teflon saja biar cepat?

Jawabannya simpel:

  • Wajan tanah liat bikin panas merata
  • Aroma lebih sedap
  • Tekstur lebih lembut

Kalau pakai teflon atau mesin, rasanya beda. Dan pihak pengelola memilih setia pada tradisi.


Antrean Panjang, Tanda Cinta Pelanggan

Setiap pagi, antrean sudah mengular. Apalagi:

  • Weekend
  • Libur panjang
  • Musim mudik

Banyak yang bilang:

“Ke Solo tapi belum beli serabi Notosuman, rasanya kayak belum sah.”

Biar nggak antre lama, baca tipsnya di sini:
👉 Tips Beli Serabi Notosuman


Harga Dulu vs Sekarang

Dulu harga serabi cuma:

  • Ratusan rupiah per biji

Sekarang jadi:

  • Rp 20.000 – Rp 50.000 per box

Tapi tetap worth it karena:

  • Tanpa pengawet
  • Bahan premium
  • Proses manual

Update harga terbaru bisa cek:
👉 Harga Serabi Notosuman


Lokasi Toko Legendaris

Toko utama masih berada di:

  • Jalan Notosuman, Solo

Dan sekarang sudah ada beberapa cabang.
Lokasi lengkap:
👉 Lokasi Toko Serabi Notosuman


Serabi Notosuman dan Budaya Solo

Serabi bukan cuma makanan, tapi bagian dari budaya. Biasanya disajikan saat:

  • Arisan
  • Hajatan
  • Acara keluarga

Dan sekarang naik level jadi oleh-oleh wisata.


Ngemil Serabi, Lanjut Makan Tengkleng!

Habis beli serabi, jangan langsung pulang. Masih ada misi kuliner berat 😆

Warung Tengkleng Solo Dlidir siap jadi tujuan berikutnya.

Menu andalan:

  • Tengkleng kuah rempah – Rp 40.000,-
  • Tengkleng rica – Rp 45.000,-
  • Kepala kambing + 4 kaki – Rp 150.000,- (4–8 orang)
  • Sate buntel kambing lokal – Rp 25.000,-/tusuk
  • Oseng dlidir (tongseng + nasi + es jeruk) – Rp 20.000,-
  • Sego gulai kambing – Rp 10.000,- (khusus malam)

Fasilitas lengkap:

  • Parkir luas
  • Mushola
  • Toilet
  • Cocok rombongan

WA: 0822 6565 2222

Cek juga:
👉 Kuliner Malam Solo Murah


Kesimpulan

Serabi Notosuman bukan sekadar jajanan, tapi:

  • Warisan budaya
  • Simbol kota Solo
  • Oleh-oleh legendaris

Dari dapur sederhana di Jalan Notosuman, kini namanya dikenal se-Indonesia. Resep tradisional, cara masak kuno, tapi rasanya selalu relevan sampai sekarang.

Kalau kamu ke Solo:

  • Beli serabi pagi hari
  • Bawa pulang buat keluarga
  • Lanjut makan tengkleng biar makin lengkap 😁

Semoga artikel ini bikin kamu makin jatuh cinta sama kuliner Solo.
Sampai jumpa di artikel tengklengsolo.com berikutnya 👋

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *