Tempat Ngopi Santai Plus Kuliner Legendaris di Gilingan Setelah Shalat Tarawih di Zayed

Tempat Ngopi Santai Plus Kuliner Legendaris di Gilingan Setelah Shalat Tarawih di Zayed: Cara Orang Solo Menikmati Malam Tanpa Tergesa

Kalau Anda bertanya kepada orang Solo, “Habis tarawih biasanya lanjut ke mana?” jawabannya jarang langsung menyebut nama tempat. Orang Solo itu tidak suka tergesa. Mereka lebih dulu merasakan malamnya.

Selepas shalat tarawih di Masjid Raya Sheikh Zayed, kawasan Gilingan seperti menurunkan tempo. Lampu jalan menyala lebih lembut. Sandal melangkah pelan. Anak-anak masih berlarian kecil. Dan orang-orang dewasa mulai saling bertanya, “Ngopi sebentar, ya?”

Dari situlah kebiasaan mencari tempat ngopi santai plus kuliner legendaris di Gilingan setelah tarawih Zayed tumbuh. Bukan sekadar ingin minum kopi, tetapi ingin menutup malam dengan hangat.

Kalau Anda ingin memahami gambaran besarnya dulu, Anda bisa membaca suasana lengkapnya di tempat ngopi santai di Gilingan setelah shalat Tarawih di Zayed. Karena bagi orang Solo, kebiasaan ini bukan tren musiman, melainkan ritme yang sudah lama hidup.

Orang Solo dan Waktu yang Dibiarkan Mengalir

Biasanya, setelah tarawih, orang tidak langsung lapar besar. Namun tubuh ingin ditemani sesuatu yang hangat. Suasana malam seperti memanggil untuk duduk lebih lama.

Kami sering melihat rombongan keluarga berjalan pelan dari area masjid menuju Gilingan. Mereka tidak sibuk mencari tempat paling ramai. Mereka hanya mencari kursi kosong yang terasa cocok.

Karena itu, dalam kebiasaan orang Solo, kopi hanyalah pembuka. Yang lebih penting adalah momen setelahnya. Obrolan yang mengalir. Tawa kecil yang pecah pelan. Dan kemudian makanan legendaris ikut hadir di meja.

Kenapa Harus Kuliner Legendaris?

Di Solo, makanan legendaris itu seperti orang tua yang selalu menunggu di rumah. Ia tidak pernah memaksa. Tetapi ketika Anda datang, ia selalu ada.

Setelah tarawih, terutama sekitar pukul 20.30 sampai 22.00, waktu terasa pas untuk menikmati makanan berkuah. Apalagi kalau malam sedikit berangin atau habis hujan. Kuah hangat seperti berbicara lebih jelas.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Bau kuah yang mengepul sering membuat langkah orang melambat.

Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000). Dan sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi).

Kalau datang bersama rombongan, kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) sering jadi alasan duduk lebih lama. Bukan karena banyaknya, tetapi karena meja panjang selalu mengundang cerita.

Parkir luas bahkan untuk bus dan elf. Ada mushola. Ada toilet bersih. Cocok rombongan. Fokusnya tetap pada kenyamanan pengunjung, supaya Anda tidak perlu repot setelah ibadah.

Ngopi Dulu atau Makan Dulu? Orang Solo Punya Caranya

Kalau datang bersama orang tua, biasanya makan dulu baru ngopi. Supaya perut tenang dan obrolan tidak terpotong rasa lapar.

Namun kalau datang bersama teman sebaya, sering kali kopi dulu. Duduk. Cerita. Baru ketika perut berbunyi pelan, makanan menyusul.

Karena itu, penting juga memahami pilihan seperti cafe nyaman di Gilingan yang buka setelah tarawih Masjid Zayed, supaya Anda bisa menyesuaikan ritme malam Anda.

Selain itu, kalau Anda ingin menggabungkan kopi dan hidangan yang sudah lama hidup di kota ini, Anda bisa melihat juga pembahasan tentang ngopi dekat Masjid Zayed sekalian kuliner legendaris Gilingan. Biasanya orang Solo memilih tempat yang membuat suasana tetap hangat, bukan tergesa.

Momen yang Paling Pas Menurut Kebiasaan Lokal

Menurut kebiasaan orang Solo, makanan berat seperti tengkleng atau rica-rica paling nikmat dinikmati setelah suasana masjid mulai lengang. Biasanya sekitar pukul 21.00 ke atas.

Namun kalau Anda hanya ingin ringan, sego gulai malam hari (Rp10.000) sering cukup. Hangatnya sederhana, tetapi terasa pas.

Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) juga sering jadi pilihan kalau ingin makan tanpa terasa berat. Cocok kalau Anda ingin tetap bisa bergerak ringan setelahnya.

Kalau suasana malam sedang ramai dan Anda ingin alternatif yang lebih santai, pembahasan tentang tempat nongkrong murah di Gilingan setelah tarawih yang ramai tapi nyaman juga bisa memberi gambaran.

Karena memang, bagi orang Solo, tempat ngopi santai plus kuliner legendaris di Gilingan setelah tarawih Zayed bukan soal gengsi. Ia soal rasa cukup.

Datang Berombongan? Datanglah dengan Tenang

Bulan Ramadan sering membuat meja-meja cepat penuh. Karena itu, kalau Anda datang bersama keluarga besar atau rombongan kantor, memastikan tempat lebih dulu sering membuat malam terasa lebih tenang.

Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222 untuk memastikan ketersediaan. Dengan begitu, Anda tidak perlu berdiri lama setelah ibadah.

Dan kalau Anda ingin mengenal lebih jauh tentang olahan sate yang sudah lama dikenal warga, Anda bisa membaca juga Sate kambing solo terkenal. Karena di Solo, sate bukan sekadar tusukan daging, tetapi bagian dari kebiasaan kota.

Menutup Malam dengan Hangat dan Syukur

Pada akhirnya, tempat ngopi santai plus kuliner legendaris di Gilingan setelah tarawih Zayed bukan hanya tentang makanan. Ia tentang kebiasaan orang Solo yang tidak pernah terburu pulang.

Kami percaya, setiap langkah Anda menuju masjid dan menuju meja makan membawa doa yang diam-diam terangkat ke langit. Semoga Anda selalu diberi kesehatan. Semoga rezeki Anda dilapangkan. Semoga setiap suapan menjadi penguat tubuh dan pembuka pintu keberkahan.

Kalau suatu malam Anda ingin duduk lebih lama, biarkan kopi mendingin pelan. Biarkan kuah hangat berbicara. Biarkan malam Gilingan menyambut Anda seperti teman lama.

Karena ketika Anda pulang dengan hati ringan dan perut cukup, itulah tanda malam Anda benar-benar sampai.

Tempat Ngopi Santai Plus Kuliner Legendaris di Gilingan Setelah Shalat Tarawih di Zayed
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *