Ngabuburit Estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Sambil Kulineran

Ngabuburit Estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Menunggu Maghrib dengan Cara Orang Solo

Kalau Anda bertanya, “Kalau orang Solo ngabuburit biasanya gimana?”, kami jarang langsung menjawab soal tempat makan. Kami biasanya menjawab soal waktu. Soal duduk yang tidak tergesa. Soal angin sore yang berjalan pelan di pelataran Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.

Ngabuburit estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan soal ramai atau tidaknya. Ia soal rasa yang tumbuh perlahan. Orang datang bukan hanya untuk menunggu adzan, tetapi untuk menikmati peralihan siang ke senja.

Datang Lebih Awal Itu Sudah Kebiasaan

Biasanya sekitar jam empat sore, pelataran mulai terisi. Anak-anak berlari kecil. Orang dewasa duduk sambil berbincang ringan. Beberapa hanya memandangi kubah yang berdiri anggun, seolah langit sengaja menunduk sedikit untuk menyentuhnya.

Kami terbiasa datang lebih awal. Karena bagi orang Solo, menunggu itu bagian dari ibadah juga. Kami menikmati perubahan warna langit. Kami menikmati percakapan yang mengalir tanpa beban.

Kalau Anda ingin memahami gambaran besar suasana dan kuliner di sekitar sini, Anda bisa membaca cerita utama tentang nasi kebuli dekat Masjid Zayed Solo. Di sana Anda akan melihat bagaimana waktu, masjid, dan makanan saling menyapa dengan halus.

Saat Perut Mulai Berbisik

Menjelang jam lima lewat, perut biasanya mulai memberi tanda. Namun kami tidak langsung berdiri dan mencari makanan berat. Biasanya kami tetap duduk. Kami menunggu sampai suasana terasa matang.

Ngabuburit estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo terasa paling hidup justru saat cahaya mulai keemasan. Angin seperti membawa aroma dari arah warung-warung sekitar. Bukan aroma yang memaksa, tetapi yang mengajak.

Berbuka dengan Hangat, Bukan Terburu

Begitu adzan maghrib berkumandang, kami berbuka sederhana dulu. Air, kurma, atau minuman manis. Setelah itu baru makanan datang pelan-pelan.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Asapnya naik pelan, seolah ikut menyatu dengan langit senja. Banyak orang setelah berbuka memilih tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Kuahnya seperti memeluk perut yang seharian kosong.

Ada juga yang memilih rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi), terutama bagi yang ingin rasa lebih tegas setelah menahan lapar. Namun kalau datang bersama keluarga, biasanya kami berbagi. Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) sering jadi pusat meja. Bukan untuk pamer, tetapi supaya semua bisa ikut mencicipi.

Kalau ingin lebih ringan, sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) atau sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000) sering menjadi pilihan. Bahkan ada yang memilih oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) karena praktis dan pas untuk berbuka tanpa ribet.

Kami tidak memilih karena tren. Kami memilih karena suasana.

Habis Hujan, Rasa Jadi Lebih Dalam

Kadang sore datang bersama hujan. Jalanan basah memantulkan lampu. Udara jadi lebih dingin. Justru dalam kondisi seperti itu, ngabuburit estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo terasa lebih syahdu.

Setelah hujan reda, banyak orang tetap bertahan. Mereka ingin menikmati udara bersih. Biasanya pilihan makanan pun berubah. Yang hangat lebih dicari. Sego gulai malam hari (Rp10.000) sering jadi pembuka sebelum memilih menu lain.

Di Solo, cuaca dan selera itu berjalan beriringan.

Setelah Maghrib, Suasana Belum Selesai

Banyak yang mengira ngabuburit selesai setelah berbuka. Padahal tidak. Setelah maghrib, bahkan setelah tarawih, suasana berubah lagi. Orang keluar masjid dengan wajah lebih ringan. Anak-anak masih bermain. Beberapa keluarga memilih duduk lagi sebelum pulang.

Kalau Anda ingin tahu pilihan makan malam yang biasa dipilih warga sekitar, Anda bisa membaca tempat makan dekat Masjid Zayed Solo yang buka malam. Di sana Anda akan melihat bagaimana ritme malam berjalan.

Sementara itu, bagi yang ingin mengenal lebih dalam olahan kambing yang sering jadi pilihan jamaah, Anda bisa melihat cerita tentang menu nasi kebuli dan olahan kambing favorit jamaah. Semua itu bagian dari kebiasaan, bukan sekadar daftar makanan.

Dan kalau Anda ingin suasana buka bersama yang lebih ramai dan hangat, biasanya orang juga mencari spot bukber dekat Masjid Zayed Solo yang nyaman untuk duduk lebih lama.

Datang Rombongan? Solo Terbiasa Menyambut

Ngabuburit estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo sering diisi rombongan keluarga atau teman kantor. Karena itu, tempat makan di sekitar sini biasanya sudah siap. Parkir luas cukup untuk bus dan elf. Mushola tersedia. Toilet bersih. Semua dibuat agar Anda merasa tenang.

Fokusnya sederhana: kenyamanan pengunjung. Karena kalau orang nyaman, mereka makan tanpa tergesa dan berbuka dengan hati lapang.

Ngabuburit Estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

Kalau Anda ingin memastikan tempat atau bertanya lebih dulu, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222. Biasanya lebih enak konfirmasi lebih awal, apalagi kalau datang banyak orang.

Ngabuburit Itu Soal Rasa Syukur

Pada akhirnya, ngabuburit estetik di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan soal makanan apa yang Anda pilih. Ia soal duduk lebih lama dari biasanya. Ia soal berbicara lebih pelan. Ia soal menunggu adzan dengan hati yang tenang.

Kami di Solo terbiasa menikmati momen seperti itu tanpa berlebihan. Kadang kami hanya duduk, berbuka sederhana, lalu makan pelan-pelan sambil bercerita.

Kalau Anda ingin merasakan seperti orang lokal, datanglah lebih awal. Duduklah tanpa tergesa. Pilih makanan sesuai suasana. Biarkan waktu yang menentukan.

Kami berdoa semoga Anda selalu diberi kesehatan. Semoga puasa Anda lancar. Semoga rezeki Anda diluaskan dan setiap suapan saat berbuka membawa barokah untuk Anda dan keluarga.

Karena di Solo, menunggu maghrib bukan sekadar menanti adzan. Ia adalah cara kami merawat waktu, rasa, dan kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *