Tempat Makan Dekat Zayed Solo Buka Larut Malam: Kebiasaan Orang Solo Menunggu Kantuk Datang
Di Solo, malam tidak pernah benar-benar selesai setelah tarawih. Justru setelah salam terakhir itulah orang mulai memilih: pulang atau memperpanjang malam. Banyak yang tidak langsung menuju rumah. Sandal sudah terpasang, kendaraan sudah siap, tapi langkah masih pelan. Seakan kota berbisik, “sebentar lagi saja”.
Kami sudah lama hidup dengan ritme itu. Sejak kecil sampai sekarang, ada satu kebiasaan yang tidak berubah: habis ibadah, perut belum tentu lapar, tapi hati ingin duduk sebentar. Maka orang mencari tempat makan dekat Zayed yang masih buka larut malam. Bukan untuk pesta makan, tapi untuk menutup hari dengan pelan.
Kalau Anda baru pertama datang, mungkin heran kenapa jalanan masih hidup padahal sudah lewat jam sembilan malam. Tapi di Solo, jam segitu baru awal jeda. Cerita lengkap kebiasaan itu pernah kami tulis di panduan makan malam setelah tarawih di Zayed. Di sini, kita bahas khusus soal tempat yang dipilih orang ketika malam belum ingin selesai.
Kenapa Harus yang Masih Buka Lama?
Orang Solo tidak suka makan terburu-buru. Kalau warung mau tutup, rasanya seperti diusir waktu. Karena itu tempat makan yang dicari bukan yang cepat, tapi yang sabar. Tempat yang tidak membuat Anda melihat jam setiap lima menit.
Malam punya ritme sendiri. Awalnya ramai keluarga, lalu pelan diganti obrolan teman, kemudian jadi sunyi santai. Tempat makan yang bertahan sampai larut memberi ruang semua fase itu terjadi.
Biasanya sebelum duduk orang sudah memperkirakan kendaraan dulu. Banyak yang mempertimbangkan akses parkir, makanya sering orang membaca dulu bagaimana kondisi parkir kuliner sekitar masjid. Karena kalau kendaraan tenang, ngobrol juga panjang.
Jam Sembilan: Duduk dan Menyesuaikan Nafas
Pukul sembilan lewat sedikit, kursi mulai terisi. Tapi meja belum penuh makanan. Biasanya hanya minum dulu. Teh panas atau jeruk hangat. Orang Solo percaya hangat lebih penting dari kenyang.
Di fase ini, pembicaraan masih ringan. Menanyakan rumah, pekerjaan, kabar keluarga. Makanan belum jadi fokus. Perut pun masih diam.
Baru setelah beberapa menit, makanan kecil muncul. Sego gulai malam hari (Rp10.000) sering menjadi pembuka. Tidak berat, tidak memaksa perut. Hanya tanda bahwa malam resmi dilanjutkan.
Jam Sepuluh: Obrolan Mulai Dalam
Ketika waktu bergerak ke arah sepuluh, suasana berubah. Anak-anak mulai mengantuk, suara pelan, dan angin malam terasa lebih dingin. Di sini makanan hangat mulai dicari.
Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) biasanya datang saat cerita mulai panjang. Tidak dimakan cepat. Bahkan kadang satu tusuk dibagi dua orang.
Lalu kuah hadir. Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi) membuat meja hening beberapa detik. Setelah itu pembicaraan lanjut lagi, lebih pelan, lebih jujur.
Ada satu dapur yang sering kami temui suasananya seperti ini: di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Kadang aroma datang duluan sebelum pesanan selesai, seakan mengajak duduk lebih lama.
Jam Sebelas: Rombongan Datang
Menjelang sebelas, keluarga pulang. Digantikan teman dan rombongan kecil. Nada obrolan berubah, lebih santai. Tidak lagi bicara besok pagi, tapi cerita lama.
Di waktu ini biasanya makanan pedas dicari. Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi) muncul untuk mengusir kantuk. Pedasnya tidak mengejutkan, tapi membangunkan.
Kalau datang ramai, barulah porsi besar keluar. Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) membuat orang duduk lebih lama tanpa sadar waktu berjalan.
Orang Hemat dan Jalan Sedikit Jauh
Tidak semua ingin suasana ramai. Sebagian memilih jalan agak menjauh. Biasanya menuju area yang lebih sederhana. Kebiasaan itu kami ceritakan juga di cerita makan malam murah sekitar Gilingan.
Di sana orang tidak mengejar tempat, tapi kebersamaan. Paket sederhana seperti oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) terasa cukup. Karena tujuan utamanya duduk, bukan mengenyangkan.
Menunggu Jam Sepi
Menariknya, sebagian warga justru menunggu ramai turun dulu. Mereka datang lebih malam. Katanya lebih enak makan saat kota mulai sunyi.
Kebiasaan itu bukan tanpa alasan. Udara lebih dingin, obrolan lebih fokus, dan tidak terburu kursi berikutnya. Polanya bisa Anda lihat di kapan orang biasanya makan setelah tarawih.
Di jam ini sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000) terasa pas. Tidak berat tapi cukup menemani sampai pulang.
Yang Dicari Bukan Hanya Makanan
Tempat makan larut malam dipilih karena kenyamanan. Parkir luas (bus & elf) membuat rombongan tenang. Mushola memudahkan ibadah tambahan. Toilet bersih membuat orang tua betah. Cocok rombongan dan fokus kenyamanan pengunjung menjadi alasan kembali.
Karena di Solo, setia bukan pada rasa — tapi pada suasana.
Penutup
Semoga setiap perjalanan malam Anda selalu ringan, badan sehat, rezeki lancar, dan hidup penuh barokah.
Kalau suatu malam Anda butuh tempat duduk yang tidak tergesa, Anda bisa bertanya lewat WhatsApp 0822 6565 2222.
Dan bila ingin mengenal salah satu hidangan yang sering menemani malam warga sini, kami pernah menuliskannya di Sate kambing solo terkenal.
Di Solo, larut malam bukan akhir hari — tapi cara pelan mengucapkan selamat pulang.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram
