Rekomendasi Kuliner Malam Setelah Shalat Tarawih di Zayed Solo: Panduan Jamaah yang Ingin Makan Seperti Orang Lokal
Malam di Solo itu tidak pernah benar-benar tidur, apalagi di sekitar Masjid Sheikh Zayed. Setelah salam terakhir tarawih mengalir pelan, jamaah tidak langsung pulang. Mereka keluar bersama arus manusia yang pelan tapi pasti, seperti Bengawan saat kemarau — tidak deras, tapi selalu berjalan.
Kalau Anda baru pertama datang, biasanya bingung. Mau langsung pulang rasanya sayang, tapi mau makan juga tidak tahu harus ke mana. Nah, orang Solo sendiri punya kebiasaan: habis tarawih itu bukan sekadar cari kenyang. Ini bagian dari malam Ramadan. Bagian dari jeda. Bagian dari ngobrol yang baru menemukan nadanya setelah ibadah.
Kami tumbuh di kota ini. Dari kecil sampai sekarang, pola malamnya tidak banyak berubah. Tarawih selesai, sandal dicari, lalu orang-orang tidak bergegas pulang. Mereka berhenti sebentar. Ada yang berdiri di pelataran, ada yang menunggu keluarga, ada yang menengok langit sebentar — seakan ingin memastikan malam masih panjang.
Momen Setelah Tarawih: Perut Tidak Lapar, Tapi Hati Ingin Duduk
Orang Solo jarang langsung lapar setelah tarawih. Perut sebenarnya masih tenang karena buka tadi belum jauh. Tapi ada rasa lain — rasa ingin duduk lagi. Bukan makan berat, tapi makan yang menemani obrolan.
Di sinilah kebiasaan makan malam muncul.
Bukan soal rasa dulu. Bukan soal terkenal. Tapi soal waktu.
Tarawih selesai sekitar pukul sembilan. Jam segitu, rumah terlalu sunyi untuk langsung dituju. Maka jalanan sekitar Zayed pelan-pelan berubah fungsi. Dari jalur pulang menjadi jalur singgah.
Anda akan melihat keluarga jalan kaki tanpa tujuan jelas. Anak kecil masih berlari, bapak-bapak melonggarkan sarung, ibu-ibu mulai bicara soal besok sahur apa. Dan pada titik tertentu, semua langkah berhenti di satu tempat: tempat duduk.
Kenapa Orang Solo Makan Setelah Tarawih?
Bukan karena lapar.
Tapi karena Ramadan memperpanjang malam.
Di bulan biasa, jam segini kota sudah melipat diri. Tapi Ramadan membuka lipatan itu. Warung menyalakan lampu, kursi plastik ditarik keluar, dan asap mulai bicara pelan ke udara.
Makan setelah tarawih itu seperti epilog dari ibadah. Bukan bagian utama, tapi tanpa itu rasanya cerita belum selesai.
Biasanya yang dicari makanan berkuah. Hangat, ringan, tidak membuat begah. Orang tua sering bilang: “sing penting anget, dudu wareg” — yang penting hangat, bukan kenyang.
Karena sebentar lagi sahur.
Jalanan Sekitar Zayed Berubah Karakter
Kalau siang tempat ini terasa luas dan megah, malam justru terasa akrab. Lampu tidak lagi menerangi bangunan, tapi menerangi wajah-wajah.
Anda mungkin akan berjalan agak jauh sedikit, atau memilih area yang mudah diakses kendaraan. Banyak jamaah biasanya sebelum berangkat sudah cari gambaran dulu orang habis tarawih biasanya makan di sekitar Zayed sebelah mana supaya tidak muter dua kali.
Di Solo, muter parkiran malam Ramadan itu bisa menghabiskan tenaga lebih dari tarawihnya sendiri.
Karena itu, warung yang nyaman biasanya bukan yang paling ramai, tapi yang paling membuat orang betah turun dari kendaraan.
Suasana Lebih Penting dari Menu
Orang luar kota sering bertanya: di situ makan apa yang paling enak?
Orang Solo jarang menjawab nama makanan.
Mereka menjawab suasana.
Karena makan malam setelah tarawih bukan soal berburu rasa, tapi mencari jeda sebelum malam lanjut. Anak kecil mengantuk di kursi, teh hangat menguap pelan, dan obrolan keluarga menemukan ritmenya.
Baru setelah itu makanan terasa.
Biasanya kuah dulu yang datang. Hangatnya menyentuh tenggorokan seperti menyapa: malam masih panjang, tidak perlu buru-buru.
Makanan Hangat dan Waktu yang Pelan
Di sekitar sini, makanan yang dicari jarang yang kering. Orang lebih memilih yang bisa dinikmati pelan.
Kuah yang tidak marah. Daging yang tidak melawan. Bumbu yang tidak berisik.
Pernah satu malam kami duduk cukup lama sampai meja lain sudah tiga kali berganti orang. Tidak ada yang mengusir, tidak ada yang merasa terlalu lama. Malam Ramadan memang tidak pernah mengukur waktu dengan jam.
Di salah satu dapur yang masih menjaga kebiasaan lama, ada kalimat yang sering kami dengar: di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.
Kapan Jamaah Mulai Lapar?
Biasanya sekitar pukul setengah sepuluh.
Bukan lapar besar, tapi lapar kecil yang meminta ditemani. Maka orang mulai memilih makanan yang hangat dan tidak terlalu berat.
Sego gulai malam hari (Rp10.000) sering jadi pembuka. Bukan untuk kenyang, tapi untuk menutup jeda antara ibadah dan tidur.
Lalu ada yang menambah sedikit. Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi) biasanya dimakan berdua.
Ada juga yang memilih kuah — tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi).
Makan Rombongan: Tradisi yang Tidak Diucapkan
Ramadan membuat orang jarang makan sendiri.
Minimal berdua. Seringnya berempat.
Kalau datang ramai, biasanya yang dipilih bukan porsi individual. Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000) sering jadi alasan duduk lebih lama.
Karena itu banyak orang biasanya cari dulu yang masih buka agak malam di sekitar Zayed supaya kumpulnya tidak keburu bubar.
Ritme Pesanan Orang Lokal
Orang Solo jarang memesan sekaligus banyak.
Pertama minum. Lalu kuah. Baru daging.
Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi) biasanya datang belakangan.
Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000) sering jadi penutup.
Kalau ingin ringan, banyak yang memilih oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000).
Fasilitas Itu Penentu
Parkir luas (bus & elf), mushola, toilet, dan cocok rombongan membuat orang tidak buru-buru pulang. Fokusnya kenyamanan pengunjung, bukan cepat gantian kursi.
Penutup
Semoga setiap langkah Anda dipermudah, badan sehat, rezeki lapang, dan malam Ramadan penuh barokah.
Bila suatu malam Anda butuh tempat singgah yang tidak tergesa, cukup kirim pesan ke WhatsApp 0822 6565 2222.
Dan kalau Anda penasaran dengan salah satu hidangan khas yang sering menemani malam warga sini, Anda bisa membaca ceritanya di Sate kambing solo terkenal.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram
