Menu Buka Puasa Solo Dekat Masjid Zayed yang Selalu Ramai Saat Ramadan

Menu Buka Puasa Dekat Masjid Zayed Solo yang Selalu Dicari Menjelang Maghrib

Sore di sekitar Masjid Raya Sheikh Zayed Solo selalu punya ritme sendiri saat Ramadan. Matahari belum benar-benar tenggelam, tetapi halaman masjid sudah dipenuhi langkah pelan. Ada yang membawa sajadah, ada yang membawa keluarga, dan ada juga yang membawa satu pertanyaan sederhana: nanti berbuka makan apa?

Menu Buka Puasa Dekat Masjid Zayed Solo

Di kawasan ini, waktu terasa lebih lambat. Angin berembus membawa aroma gorengan, kurma, dan kuah hangat dari kejauhan. Bahkan sebelum adzan berkumandang, perut sudah diajak berdialog oleh udara.

Karena itu banyak jamaah tidak langsung pulang setelah ibadah. Mereka berjalan menyusuri jalan sekitar, mencari menu buka puasa yang bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga menenangkan.

Bila Anda baru pertama berburu kuliner Ramadan di area ini, kami sarankan membaca panduan lengkap di menu buka puasa Solo terlengkap agar tidak tersesat di antara terlalu banyak pilihan.

Kenapa Sekitar Masjid Zayed Selalu Ramai Saat Buka Puasa

Bukan hanya karena masjidnya megah. Kawasan ini seperti pusat gravitasi Ramadan di Solo. Orang datang dari berbagai arah, dan ketika ibadah selesai, mereka belum ingin pulang.

Perut yang seharian bersabar meminta sesuatu yang lembut dulu. Bukan pedas berlebihan, bukan dingin mengejutkan. Maka menu berkuah menjadi sahabat pertama setelah kurma dan air.

Kuah hangat terasa seperti ucapan selamat datang setelah seharian menahan lapar.

Pilihan Menu Hangat yang Paling Dicari Jamaah

Banyak pengunjung mencari makanan yang menenangkan lambung. Karena itu kuliner berkuah selalu lebih cepat habis dibanding gorengan. Anda bisa melihat panduan khususnya di menu buka puasa berkuah di Solo yang biasanya jadi pilihan pertama sebelum tarawih.

Menariknya, sebagian orang tidak hanya mencari takjil ringan. Mereka langsung menuju menu berat agar setelah tarawih tidak perlu makan lagi.

Takjil Berat yang Mengenyangkan

Di Solo, takjil tidak selalu kecil. Ada istilah takjil berat — makanan yang cukup untuk langsung menutup puasa tanpa perlu makan malam lagi.

Jenis ini biasanya diburu jamaah yang datang dari luar kota. Mereka ingin sekali makan tetapi puas. Referensi lengkapnya bisa Anda lihat di takjil berat khas Solo yang sering jadi incaran menjelang maghrib.

Ketika Perut Memilih Tengkleng

Beberapa langkah dari keramaian, aroma kaldu seringkali lebih kuat dari suara kendaraan. Hidung memimpin arah sebelum mata melihat papan nama.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.

Panci besar mengepul pelan, seolah berbicara kepada setiap orang yang lewat: berhentilah sebentar. Banyak pengunjung awalnya hanya ingin melihat, tetapi akhirnya duduk.

  • Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi)
  • Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi)
  • Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000)
  • Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000)
  • Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi)
  • Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000)
  • Sego gulai malam hari (Rp10.000)

Beberapa tamu bahkan datang kembali setelah tarawih hanya untuk melanjutkan percakapan sambil menikmati Sate kambing solo terkenal yang terasa berbeda saat malam lebih tenang.

Tempat Nyaman Lebih Dicari Daripada Murah

Menjelang berbuka, orang tidak sekadar mencari makanan. Mereka mencari tempat berhenti. Karena itu faktor kenyamanan sering menjadi alasan utama orang kembali.

Area parkir luas (bus & elf) memudahkan rombongan keluarga. Mushola memudahkan ibadah tanpa tergesa. Toilet bersih membuat pengunjung betah berlama-lama.

Di bulan Ramadan, kenyang memang penting, tetapi tenang jauh lebih berarti.

Setelah Tarawih Kota Belum Tidur

Menariknya, keramaian tidak berhenti setelah adzan Isya. Justru bab kedua dimulai. Banyak jamaah keluar masjid dengan energi baru dan kembali mencari makanan.

Jika Anda ingin tahu kuliner yang buka hingga larut, kami merangkumnya di kuliner malam Ramadan Solo agar Anda tidak pulang terlalu cepat.

Bukber yang Tidak Ingin Cepat Selesai

Di Solo, buka bersama jarang selesai dalam satu jam. Percakapan berjalan lebih panjang dari rencana. Gelas teh diisi ulang berkali-kali.

Tempat makan yang cocok rombongan biasanya penuh sebelum maghrib. Karena itu sebagian orang memilih datang lebih awal atau melakukan reservasi.

Kami memahami hal itu, sehingga pengunjung bisa datang tanpa rasa tergesa dan tetap menikmati waktu bersama.

Informasi tempat & reservasi bisa melalui WhatsApp: 0822 6565 2222

Rasa yang Menyimpan Kenangan

Seringkali orang kembali bukan karena lapar, melainkan karena ingat suasananya. Meja yang sama, tawa yang sama, dan aroma yang sama.

Ramadan memang hanya sebulan, tetapi kenangan berbuka bisa tinggal bertahun-tahun.

Doa untuk Anda

Semoga setiap makanan yang Anda santap menjadi energi kebaikan dan tubuh tetap sehat menjalani ibadah.

Semoga kebersamaan Anda dan keluarga selalu penuh barokah.

Dan ketika suatu sore Anda kembali melewati Masjid Zayed menjelang adzan, semoga Anda selalu menemukan tempat yang terasa seperti pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *