Kuliner Masa Kecil Jokowi di Solo dan Kenangan Rasa yang Tidak BerubahPagi di Solo tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum matahari naik penuh, suara sendok sudah beradu pelan dengan mangkuk. Dari sela uap kuah, orang-orang berbincang ringan tentang cuaca, pasar, dan kabar kampung. Di kota seperti ini, masa kecil tidak menyimpan di album — ia tinggal di warung makan. Termasuk masa kecil Presiden Jokowi.
Kebiasaan kembali ke warung lama bukan sekadar nostalgia. Banyak orang Solo percaya rasa adalah alamat pulang. Hal itu sejalan dengan alasan tokoh kembali ke kuliner lama Solo dan juga fondasi bahan pada kualitas daging kambing lokal Solo. Ketika rasa dijaga, ingatan ikut terjaga.
Soto Triwindu: Pagi yang Pelan
Di Pasar Triwindu, pagi dimulai dengan kursi kecil yang diseret perlahan. Pembeli duduk berhadap-hadapan dengan etalase kayu tua. Penjual mengangkat sendok sayur, menuang kuah bening, lalu menaburkan bawang goreng. Uapnya naik seperti salam hangat.
Di tempat seperti inilah banyak cerita masa muda terjadi. Sarapan bukan acara resmi, melainkan rutinitas. Kesederhanaan suasana memperlihatkan bagaimana racikan bumbu tradisional Solo bekerja tanpa perlu dekorasi.
Soto Gading: Meja Keluarga
Menjelang siang, suasana berubah. Meja panjang terisi kerupuk, sate usus, dan perkedel. Orang tidak langsung makan — mereka memilih lauk sambil bercakap. Anak kecil duduk di pangkuan, orang tua menyeruput kuah perlahan.
Keramaian seperti ini bukan kebetulan. Ia bagian dari kebiasaan kota yang dijelaskan pada kenapa kuliner lama Solo tidak pernah sepi. Rasa yang konsisten membuat orang datang tanpa diundang.
Sate Kere Mbak Tug: Hangat Sore Hari
Sore hari membawa aroma bakaran. Asap tipis naik dari arang, menempel di udara kampung. Sate kere dibalik perlahan, bumbu kecap menetes ke bara. Tidak mewah, tetapi akrab.
Di sinilah makna kesederhanaan terasa. Tempe gembus dan jeroan menjadi hidangan penting. Banyak pelanggan datang bukan karena lapar, tetapi karena ingin mengulang sore yang sama.
Es Dawet Telasih Bu Dermi: Jeda Pasar
Pasar Gede selalu ramai. Namun di sudutnya, segelas es dawet memberi jeda. Bunyi sendok mengaduk santan dan gula jawa terdengar menenangkan. Panas siang turun pelan.
Minuman sederhana ini sering menjadi penutup perjalanan belanja. Tradisi kecil yang bertahan puluhan tahun.
Ayam Goreng Mbah Karto: Malam yang Ramai
Saat malam turun, aroma ayam goreng mulai memenuhi udara. Ayam kampung diangkat dari wajan, kemudian dimenyajikan bersama sambal blondho. Orang makan lebih lama di malam hari. Percakapan bertambah panjang.
Biasanya pengunjung datang di jam tertentu agar mendapat rasa terbaik seperti kami membahasnya pada jam makan favorit warung legendaris.
Favorit Lainnya
Gudeg Mbak Yus, Sate Buntel Hj. Bejo, dan Timlo Maestro melengkapi peta rasa masa kecil. Setiap tempat punya waktu sendiri: pagi, siang, sore, atau malam. Kota ini seperti jadwal makan panjang yang tidak pernah selesai.
Makna Kuliner Masa Kecil
Makanan di Solo tidak mengejar tren. Ia menjaga kebiasaan. Karena itu banyak tokoh kembali sebagai pelanggan biasa. Mereka tidak mencari tempat baru, tetapi rasa lama.
Warung Tengkleng Solo Dlidir
Kami berusaha menghadirkan suasana yang sama agar Anda merasakan hangat perjalanan rasa:
- Tengkleng solo kuah rempah Rp 40.000
- Tengkleng rica Rp 45.000
- Kepala kambing + 4 kaki Rp 150.000 (4–8 orang)
- Sate buntel kambing lokal Rp 40rb
- Sate kambing muda Rp 30.000
- Oseng dlidir paket hemat Rp 20.000
- Sego gulai kambing Rp 10.000 malam hari
Sate kambing solo terkenal menyapa lewat aroma sebelum Anda duduk. Parkir luas untuk bus dan elf, mushola dan toilet tersedia sehingga rombongan nyaman. WhatsApp 0822 6565 2222.
Penutup
Kuliner masa kecil Jokowi mengajarkan bahwa rasa tidak harus berubah untuk tetap hidup. Ia cukup dirawat. Semoga Anda selalu sehat, kenyang, dan barokah dalam setiap perjalanan rasa bersama kami.
Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :
Instagram kami :
View this post on Instagram