Arsip Kategori: Daftar wisata dan Kuliner di Kota Solo

Menu Buka Puasa Berkuah Hangat di Solo Paling Dicari Saat Maghrib

Menu Buka Puasa Berkuah Hangat di Solo yang Paling Dicari Saat Maghrib

Saat adzan maghrib turun di langit Solo, perut tidak pernah benar-benar meminta makanan berat lebih dulu. Ia meminta sesuatu yang lembut. Sesuatu yang datang pelan, menyapa tanpa mengejutkan. Karena itu banyak orang langsung mencari menu buka puasa berkuah hangat di Solo sebelum memilih hidangan lain.

Menu Buka Puasa Berkuah Hangat di Solo

Kuah hangat seperti membuka pintu energi secara perlahan. Tubuh yang seharian berpuasa tidak kaget, dan pikiran terasa kembali jernih. Tidak heran hampir setiap sudut kota memiliki warung berkuah yang selalu hidup menjelang senja.

Bila Anda ingin melihat gambaran besar kuliner Ramadan di kota ini, Anda bisa membacanya di menu buka puasa Solo terlengkap agar lebih mudah menentukan tujuan.

Kenapa Berbuka Lebih Nyaman Dengan Kuah Hangat

Setelah seharian menahan lapar, lambung seperti baru bangun tidur. Ia tidak suka dibangunkan dengan teriakan pedas atau dingin berlebihan. Ia lebih suka disapa perlahan.

Karena itu makanan berkuah selalu jadi pilihan pertama. Selain mudah dicerna, aromanya membantu tubuh memberi sinyal kenyang tanpa berlebihan.

Banyak jamaah dari area masjid memilih berbuka dengan menu seperti ini sebelum melanjutkan malam. Anda bisa melihat kebiasaan itu juga dibahas pada menu buka puasa dekat Masjid Zayed Solo yang selalu dipenuhi pencari kuah hangat.

Timlo Solo: Hangatnya Tenang

Timlo Solo tidak pernah berteriak. Ia berbicara dengan suara pelan. Kuah beningnya membawa aroma ayam kampung, sementara sosis Solo dan telur pindang memberi rasa akrab.

Setiap sendok terasa ringan namun mengenyangkan. Biasanya disajikan dengan sambal kecap yang membuat rasa lebih hidup tanpa mengganggu lambung.

Timlo Sastro dan Timlo Maestro menjadi tempat yang sering disebut ketika orang ingin berbuka dengan tenang.

Soto Gading: Gurih yang Bersahabat

Soto Gading sering dipilih karena fleksibel. Bisa ringan, bisa kenyang. Kuahnya bening gurih, ditemani daging sapi, bihun, dan taoge.

Pendampingnya justru membuat banyak orang kembali: tempe goreng, sate paru, hingga sate telur puyuh.

Rombongan bukber biasanya memilih menu seperti ini karena cocok untuk banyak selera, seperti yang sering dicari pada tempat bukber Solo menu kambing favorit sebelum lanjut hidangan utama.

Tengkleng: Kuah yang Mengajak Duduk Lebih Lama

Berbeda dengan dua sebelumnya, tengkleng memiliki karakter lebih hangat. Rempahnya terasa, tetapi tetap ramah. Kuahnya encer namun dalam.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.

Panci besar mengepul seperti memanggil orang lewat untuk berhenti. Banyak yang awalnya hanya ingin melihat, tetapi akhirnya memesan.

Tempatnya juga disiapkan untuk kenyamanan: parkir luas bahkan bus maupun elf bisa parkir, tersedia mushola dan toilet sehingga rombongan tidak perlu berpindah tempat.

Beberapa tamu biasanya menutup berbuka dengan mengunjungi Sate kambing solo terkenal yang berbicara lembut lewat aroma yang tak sabar menyapa.

Selat Solo: Lembut dan Elegan

Selat Solo memiliki cerita unik. Ia seperti makanan Eropa yang belajar berbicara Jawa. Daging semur, sayuran segar, dan kuah manis gurih berpadu tanpa saling mendominasi.

Banyak orang memilih selat ketika ingin berbuka tetapi tetap ringan. Rasanya mengenyangkan namun tidak membuat mengantuk saat tarawih.

Rawon: Hangat yang Dalam

Rawon memberi pengalaman berbeda. Kuah hitam dari kluwek terasa hangat hingga ke dada. Aroma khasnya membuat perut merasa benar-benar makan.

Rawon Penjara Bu Har menjadi salah satu tujuan favorit karena kuahnya konsisten sejak dulu.

Bakso dan Sop Iga: Alternatif Aman

Selain menu legendaris, banyak orang memilih bakso atau sop iga saat berbuka. Kaldu sapi terasa ringan namun tetap memulihkan tenaga.

Bakso Kadipolo sering dipilih karena porsinya pas — tidak terlalu berat tetapi cukup menghangatkan.

Menu seperti ini cocok bagi yang ingin melanjutkan berburu makanan malam, seperti dibahas pada kenapa tengkleng favorit buka puasa dan perbedaan bukber keluarga dan teman di Solo karena pilihan menu sering memengaruhi suasana.

Kenapa Warung Berkuah Tidak Pernah Sepi

Menu berkuah tidak hanya memberi rasa kenyang. Ia memberi jeda. Orang makan lebih pelan, percakapan lebih panjang, dan waktu terasa cukup.

Itulah sebabnya setelah berbuka banyak orang tetap melanjutkan malam, bahkan hingga larut seperti dibahas pada kuliner malam Ramadan Solo.

Penutup

Pada akhirnya, menu buka puasa berkuah hangat di Solo bukan sekadar pilihan rasa. Ia adalah cara tubuh kembali hidup setelah seharian menahan lapar.

Kami percaya makanan terbaik bukan yang paling mahal, tetapi yang membuat Anda ingin kembali.

Jika suatu sore Anda berada di Solo dan bingung menentukan tempat berbuka, cukup ikuti aroma kuah hangat — biasanya ia tidak pernah salah alamat.

Informasi tempat dan reservasi: WhatsApp 0822 6565 2222

Semoga setiap hidangan yang Anda santap menjadi sehat bagi tubuh, menenangkan hati, dan membawa barokah untuk Anda dan keluarga.

Rekomendasi Tempat Bukber di Solo dengan Menu Kambing Favorit Warga

Tempat Bukber Solo Menu Kambing Favorit yang Selalu Jadi Tujuan Rombongan

Di Solo, undangan buka bersama hampir selalu dimulai dengan kalimat yang sama: “kita cari tempat yang enak tapi nyaman ya.” Menariknya, kata nyaman sering lebih penting daripada kata murah. Sebab saat Ramadan, orang tidak hanya ingin makan — mereka ingin duduk lama.

Rekomendasi Tempat Bukber di Solo dengan Menu Kambing

Ketika sore turun perlahan dan langit berubah warna seperti teh panas, grup WhatsApp mulai hidup. Lokasi dibicarakan, jam disepakati, lalu muncul satu pertanyaan yang paling menentukan: menunya apa?

Dan hampir selalu, menu kambing muncul dalam daftar teratas.

Bila Anda sedang menyusun rencana buka bersama, ada baiknya membaca panduan umum di menu buka puasa Solo terlengkap agar gambaran pilihannya lebih jelas sebelum menentukan tempat.

Kenapa Menu Kambing Selalu Menang Saat Bukber

Bukber bukan makan cepat. Orang datang membawa cerita seharian, dan meja makan menjadi tempat meletakkannya. Karena itu menu harus tahan lama — bukan cepat bosan.

Kambing memiliki keunggulan unik. Rasanya hangat, aromanya akrab, dan cocok dimakan pelan sambil bicara. Tidak heran banyak keluarga memilihnya sebagai titik temu selera berbagai usia.

Selain itu, menu berkuah membantu perut beradaptasi setelah puasa. Anda bisa melihat referensi jenisnya di menu buka puasa berkuah Solo yang sering jadi pembuka sebelum hidangan lain datang.

Bukber Bukan Tentang Cepat Kenyang

Di Solo, meja bukber jarang kosong dalam satu waktu. Gelas diisi ulang, nasi ditambah, dan obrolan berpindah topik. Karena itu makanan harus tetap enak walau dimakan perlahan.

Jenis makanan berat sejak awal juga banyak dipilih, terutama oleh rombongan besar. Daftar yang sering dipilih biasanya mirip dengan takjil berat khas Solo karena praktis dan mengenyangkan tanpa perlu pesan dua kali.

Saat Aroma Memanggil Duduk

Beberapa tempat makan tidak perlu papan besar. Cukup aroma yang berjalan ke jalan. Orang lewat melambat, lalu berhenti.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.

Meja panjang biasanya mulai terisi sebelum maghrib. Ada keluarga, komunitas, sampai rombongan kantor. Mereka datang bukan karena lapar saja, tetapi karena ingin berbuka tanpa terburu pulang.

  • Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi)
  • Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi)
  • Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000)
  • Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000)
  • Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi)
  • Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000)
  • Sego gulai malam hari (Rp10.000)

Banyak pengunjung melanjutkan malam dengan berbagi cerita sambil menikmati Sate kambing solo terkenal karena rasa gurihnya terasa lebih hangat setelah tarawih.

Tempat Menentukan Suasana

Bukber rombongan memerlukan ruang. Parkir luas (bus & elf) sering jadi faktor utama, terutama bagi keluarga besar. Selain itu mushola memudahkan ibadah tanpa harus berpindah lokasi, sementara toilet bersih menjaga kenyamanan.

Ketika tempat mendukung, waktu berjalan tanpa terasa. Orang tidak sibuk mencari pindah lokasi setelah makan.

Karena itu banyak rombongan memilih tempat yang memang disiapkan untuk kebersamaan.

Malam Belum Selesai Setelah Makan

Berbeda dengan makan biasa, bukber sering berlanjut setelah tarawih. Kota Solo sendiri tidak cepat tidur. Beberapa orang kembali makan ringan atau sekadar minum hangat.

Jika Anda ingin tahu pilihan yang buka hingga larut, Anda bisa melihat daftar di kuliner malam Ramadan Solo agar acara tidak harus selesai terlalu cepat.

Lebih dari Sekadar Tempat Makan

Pengalaman bukber sering diingat bukan karena rasanya saja, tetapi karena suasananya. Anak-anak bermain kecil, orang tua bercerita lama, dan teman lama bertemu kembali.

Kami percaya tempat makan terbaik adalah tempat yang membuat orang enggan pulang.

Untuk rombongan, Anda bisa menanyakan ketersediaan tempat lebih awal melalui WhatsApp 0822 6565 2222 agar tidak perlu menunggu saat maghrib tiba.

Kenangan yang Disajikan Bersama Kuah Hangat

Banyak orang kembali ke tempat yang sama setiap Ramadan. Bahkan tanpa janji, mereka tahu harus ke mana. Karena beberapa rasa memang tidak berubah — dan justru itu yang dicari.

Di Solo, makanan tidak hanya dimakan. Ia diingat.

Doa untuk Kebersamaan Anda

Semoga setiap suapan menjadi kesehatan bagi tubuh.

Setiap pertemuan membawa kebaikan dan keberkahan.

Semoga Ramadan Anda dipenuhi tawa, hangat, dan rasa syukur.

Dan ketika Anda kembali merencanakan buka bersama, semoga selalu menemukan meja yang cukup untuk semua cerita.

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Menu Buka Puasa Solo Terlengkap Dekat Masjid Zayed & Kuliner Legendaris Ramadan

Menu Buka Puasa Solo Terlengkap Dekat Masjid Zayed & Kuliner Ramadan Paling Dirindukan

Ramadan di Solo tidak pernah datang dengan langkah biasa. Ia selalu tiba bersama aroma gula jawa yang menghangat, denting sendok dari emperan warung, dan cahaya senja yang menetes pelan di langit barat. Ketika adzan Maghrib bersiap turun, kota ini berubah menjadi dapur raksasa. Jalanan tidak sekadar ramai — ia hidup.

Menu Buka Puasa Solo Terlengkap Dekat Masjid Zayed

Anda mungkin pernah merasakannya. Perut mulai berdialog dengan waktu, sementara pikiran sibuk memilih: berburu takjil ringan atau langsung menu berat? Di Solo, keputusan itu sering kalah oleh satu hal: kenangan rasa.

Terutama di kawasan sekitar Masjid Raya Sheikh Zayed, jamaah berdatangan lebih awal. Sebagian datang untuk ibadah, sebagian lagi datang untuk menunggu momen berbuka. Namun hampir semuanya memiliki satu kesamaan — mereka pulang dengan cerita kuliner.

Masjid Zayed dan Tradisi Berbuka yang Tidak Pernah Sama

Setiap sore Ramadan, pelataran masjid tidak hanya dipenuhi langkah kaki, tetapi juga harapan kecil: semoga hari ini berbuka dengan sesuatu yang menenangkan. Bukan sekadar kenyang, melainkan rasa pulang.

Di Solo, berbuka bukan tentang makan cepat. Kota ini mengajarkan jeda. Orang-orang duduk, berbagi kurma, lalu membiarkan teh hangat membuka percakapan. Setelah itu barulah perburuan rasa dimulai.

Dan menariknya, banyak jamaah memilih tidak langsung pulang. Mereka bergerak perlahan menuju sentra kuliner malam. Jika Anda mencari gambaran lengkapnya, kami sudah merangkumnya di menu buka puasa dekat Masjid Zayed Solo agar Anda tidak kebingungan menentukan langkah setelah tarawih.

Mengapa Solo Selalu Mengundang Lapar Saat Ramadan

Kota ini punya cara unik menyapa perut. Bukan pedas yang memaksa, bukan manis yang berlebihan. Solo bermain di antara keduanya — gurih yang sabar.

Rempah di sini tidak berteriak. Ia berbisik.

Kuah tidak menyerang. Ia merangkul.

Maka wajar bila banyak perantau sengaja pulang hanya demi satu malam berbuka di kota kelahiran rasa ini.

Saat Senja Menyentuh Tengkleng

Ada satu menu yang selalu menemukan jalannya menuju meja berbuka: tengkleng. Ia bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita keluarga yang direbus lama.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah.

Panci besar tidak pernah benar-benar istirahat. Kaldu dimasak seperti menjaga rahasia turun-temurun. Saat mangkuk tiba di meja, hangatnya terasa seperti pelukan orang lama tak bertemu.

  • Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi)
  • Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi)
  • Kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000)
  • Sate buntel dua tusuk mengunci rasa (Rp40.000)
  • Sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi)
  • Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000)
  • Sego gulai malam hari (Rp10.000)

Beberapa pengunjung awalnya hanya ingin mencicipi. Namun seringkali mereka pulang dengan rencana kembali bersama rombongan.

Apalagi banyak orang berburu Sate kambing solo terkenal setelah tarawih — karena rasa gurih hangat terasa lebih bersahabat di malam Ramadan.

Bukber: Antara Janji dan Rasa

Berbuka bersama di Solo jarang selesai cepat. Bahkan sering dimulai dari pesan sederhana: “ketemu nanti habis ashar ya”. Lalu percakapan memanjang sampai larut malam.

Karena itu tempat makan harus mendukung kebersamaan, bukan sekadar makan. Banyak keluarga dan komunitas memilih tempat yang menyediakan ruang lega, parkir luas (bus & elf), mushola, toilet bersih, dan suasana tenang.

Kenyamanan seringkali lebih menentukan daripada harga. Rasa memang membuat orang datang, tetapi nyaman membuat orang kembali.

Jika Anda sedang menyusun agenda bukber, kami juga menuliskan referensi di tempat bukber Solo menu kambing favorit agar Anda tidak perlu survei satu per satu.

Kenapa Menu Hangat Selalu Jadi Juara Saat Maghrib

Perut yang berpuasa seharian tidak mencari kejutan. Ia mencari penerimaan. Karena itu menu berkuah hampir selalu menjadi pemenang pertama setelah air dan kurma.

Kuah hangat bekerja seperti jembatan — menghubungkan tubuh yang lelah dengan energi baru. Tengkleng, tongseng, dan gulai memiliki kemampuan yang sama: menghidupkan kembali tenaga tanpa mengejutkan lambung.

Itulah sebabnya warung berkuah di Solo jarang sepi saat Ramadan.

Ritual Setelah Tarawih

Menariknya, banyak orang Solo tidak menganggap makan malam selesai saat berbuka. Setelah tarawih, kota justru membuka bab kedua.

Anak muda berdatangan. Keluarga menyusul. Rombongan kantor menutup hari. Dan meja makan kembali penuh.

Di sinilah menu seperti sate, rica, dan oseng menemukan waktunya. Rasa lebih terasa, percakapan lebih panjang, dan waktu berjalan lebih lambat.

Bukan Sekadar Kenyang, Tapi Pulang

Anda mungkin datang karena lapar. Namun seringkali Anda pulang karena nyaman. Inilah yang membuat banyak orang tidak hanya mencari makanan, tetapi tempat yang terasa menerima.

Kami percaya kuliner terbaik bukan yang paling mahal, melainkan yang membuat Anda ingin mengajak orang lain datang.

Dan ketika satu meja dipenuhi tawa, sendok berhenti lebih lama dari biasanya, dan tidak ada yang terburu pulang — di situlah berbuka menjadi sempurna.

Doa Untuk Perjalanan Rasa Anda

Semoga setiap langkah Anda menuju meja berbuka dicatat sebagai kebaikan dan makanan yang masuk menjadi sehat bagi tubuh.

Semoga kebersamaan yang tercipta menjadi barokah bagi keluarga.

Jika suatu sore Anda berada di Solo dan perut mulai menunggu adzan, Anda selalu punya tempat untuk pulang rasa.

Kami menyambut dengan hangat, menyiapkan ruang nyaman untuk rombongan, serta memastikan Anda dapat berbuka tanpa tergesa.

Reservasi & informasi: 0822 6565 2222

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Sate Kambing Solo Saat Ramadhan Kenapa Selalu Antre Panjang

Kenapa Sate Kambing Solo Selalu Ramai Saat Ramadhan?

Sate kambing di Solo selalu ramai saat Ramadhan karena waktu berbuka membuat lidah lebih peka terhadap aroma bakaran. Setelah seharian kosong, tubuh mencari rasa gurih dan hangat sekaligus. Asap arang memberi sinyal “makan sungguhan sudah dimulai”. Itulah sebabnya banyak orang memilih sate setelah minum pertama — bukan sebelum — sehingga antreannya sering panjang menjelang malam.

Aroma Lebih Terasa Saat Puasa

Ketika Anda berpuasa, indra penciuman bekerja lebih tajam. Bau bakaran yang lewat sedikit saja langsung terasa kuat. Karena itu sate kambing lebih menggoda dibanding hari biasa.

Kenapa Sate Kambing Solo Selalu Ramai Saat Ramadhan

Selain itu, bumbu kecap dan lemak yang meleleh di atas bara menciptakan wangi khas. Wangi ini tidak terasa berat, tetapi cukup untuk memancing selera. Bahkan orang yang awalnya hanya ingin minum sering berubah pikiran setelah menciumnya.

Kenapa Dimakan Setelah Minum

Kebanyakan orang Solo tidak langsung makan sate saat adzan. Mereka minum dulu, lalu memberi jeda sebentar. Setelah itu baru mulai makan yang lebih padat.

Sate cocok di fase kedua berbuka. Perut sudah siap, tetapi belum terlalu kenyang. Karena itu sate terasa pas — tidak mengejutkan dan tidak membuat begah.

Lebih Nikmat Saat Malam

Menariknya, sate kambing justru terasa lebih nyaman setelah suasana tenang. Saat orang tidak terburu, kunyahan jadi pelan dan rasa lebih terasa. Banyak orang sengaja menunggu waktu yang tepat seperti dijelaskan pada kuliner malam Solo setelah tarawih agar bisa menikmati tanpa tergesa.

Tips Supaya Tidak Antre Lama

  • Datang 15–20 menit setelah berbuka
  • Hindari tepat sebelum tarawih
  • Pilih duduk dulu baru pesan
  • Jangan menunggu saat semua orang baru selesai ibadah

Biasanya setelah menikmati sate, pengunjung melanjutkan makan di tempat yang lebih lengkap seperti dalam daftar tempat buka puasa Solo.

Pengalaman Singkat yang Dicari

Kami sering melihat orang datang awalnya hanya menemani teman, lalu ikut memesan karena aromanya tidak sabar menyapa. Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, banyak pengunjung baru memutuskan makan setelah duduk beberapa menit. Jika ingin memastikan tempat, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222 atau melihat Sate kambing solo terkenal untuk gambaran.

Kesimpulan

Sate kambing ramai saat Ramadhan karena aroma lebih terasa, dimakan di waktu yang pas, dan menjadi penanda makan utama dimulai. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga momen.

Semoga waktu berbuka Anda selalu sehat dan penuh barokah. Aamiin.

Tengkleng Solo untuk Buka Puasa: Nikmat Hangat Setelah Adzan Maghrib

Apakah Tengkleng Cocok untuk Buka Puasa di Solo?

Ya, tengkleng sangat cocok untuk buka puasa di Solo karena kuahnya hangat, ringan di perut, dan tidak membuat enek setelah seharian kosong. Justru banyak orang memilih tengkleng sebagai makanan pertama setelah minum karena rasanya pelan masuk, bukan mengejutkan. Lemaknya tipis, rempahnya terasa, dan biasanya langsung membuat tubuh lebih nyaman dibanding gorengan berat.

Apakah Tengkleng Cocok untuk Buka Puasa di Solo

Kenapa Tengkleng Enak Saat Maghrib

Setelah puasa, perut Anda butuh sesuatu yang lembut dulu. Tengkleng bekerja seperti jembatan: tidak terlalu ringan seperti minuman saja, tapi juga tidak seberat nasi goreng. Kuahnya membantu tubuh menyesuaikan ritme makan kembali.

Selain itu, rempah pada tengkleng terasa lebih hidup ketika lidah baru mulai bekerja lagi. Anda tidak perlu makan banyak untuk merasa cukup. Beberapa suap saja biasanya sudah membuat badan terasa hangat.

Tidak Membuat Cepat Kenyang Berat

Banyak orang takut makan kambing saat buka karena dianggap berat. Padahal tengkleng berbeda. Potongannya kecil dan kuahnya dominan, jadi perut tidak kaget. Karena itu tengkleng sering dipilih sebelum lanjut makan lain.

Justru kebanyakan pengunjung menjadikannya pembuka sebelum menu utama. Setelah itu baru mencari tempat makan yang lebih lengkap seperti dalam rekomendasi tempat buka puasa Solo.

Tips Menikmati Tengkleng Saat Buka

  • Minum air dulu, baru beberapa sendok kuah
  • Jangan langsung nasi banyak
  • Makan perlahan supaya perut menyesuaikan
  • Berhenti sebelum terlalu kenyang

Cara sederhana ini membuat tengkleng terasa pas, bukan berat.

Kapan Waktu Terbaik Memakannya

Paling cocok tepat setelah adzan atau sekitar 10 menit setelah minum. Jika terlalu larut, biasanya tubuh sudah mulai kenyang minuman. Namun bila terlalu cepat dan terburu, rasa hangatnya kurang terasa.

Anda bisa melihat ritme waktu makan yang tepat pada pembahasan jam ramai kuliner Ramadhan Solo supaya tidak terburu suasana.

Pengalaman Makan yang Sering Dicari

Kami sering melihat orang awalnya hanya ingin minum, lalu berubah pikiran setelah mencium kuah kambing hangat. Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, suasananya sering membuat orang makan lebih pelan. Jika ingin bertanya ketersediaan tempat, Anda bisa menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222 atau melihat Sate kambing solo terkenal sebagai gambaran menu.

Kesimpulan

Tengkleng cocok untuk buka puasa karena hangat, ringan, dan membantu tubuh beradaptasi kembali makan. Tidak terlalu berat, tidak terlalu kosong. Pas di tengah.

Semoga buka puasa Anda selalu sehat dan barokah. Aamiin.

Menu Favorit Buka Puasa Orang Solo yang Selalu Laris

Menu Buka Puasa Favorit Orang Solo: Rasa yang Selalu Pulang Saat Adzan

Di Solo, waktu berbuka jarang terasa terburu-buru. Justru beberapa menit sebelum adzan, kota seperti menarik napas panjang. Sendok sudah siap, minuman sudah di depan mata, tetapi semua menunggu satu suara yang sama. Dan ketika adzan datang, makanan bukan sekadar pengganjal perut — ia menjadi bagian dari suasana.

Menu Buka Puasa Favorit Orang Solo

Itulah mengapa menu buka puasa favorit orang Solo tidak selalu yang paling mahal atau paling ramai dibicarakan. Biasanya justru yang paling akrab. Yang rasanya seperti pernah Anda kenal bahkan sebelum mencicipinya.

Jika Anda mengikuti alur perjalanan berbuka di kota ini, biasanya dimulai dari berburu jajanan sore lalu berakhir di meja makan. Banyak orang memulainya dari pasar takjil Solo, kemudian mencari tempat makan utama seperti yang dibahas di tempat buka puasa Solo.

Kenapa Menu Hangat Selalu Dicari

Perut kosong seharian tidak benar-benar meminta banyak. Ia hanya meminta hangat. Karena itu, makanan berkuah selalu menang saat maghrib. Kuah memberi rasa aman, sementara uapnya seperti menenangkan.

Kami sering melihat satu meja memesan menu berbeda tetapi suasananya sama. Semua makan pelan. Semua berbicara lembut.

Ketika Tengkleng Menjadi Bahasa Ramadhan

Ada satu menu yang selalu kembali tiap tahun: tengkleng. Bukan karena tren, tetapi karena kebiasaan.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Banyak pengunjung datang bukan karena lapar berat, tetapi karena ingin berbuka dengan rasa yang familiar.

Sesekali pengunjung membuka halaman Sate kambing solo terkenal sebelum memesan. Bukan ragu, hanya memastikan malamnya akan nyaman.

Lokasi dengan parkir luas memudahkan keluarga datang bersama. Bahkan bus maupun elf bisa parkir. Di dalam tersedia mushola, juga toilet bersih, sehingga rombongan bisa berbuka tanpa repot berpindah tempat.

Menu yang Tidak Pernah Sepi

Selain kuah hangat, menu bakaran juga punya tempat sendiri. Aroma arang seperti mengingatkan bahwa berbuka adalah perayaan kecil.

Beberapa orang melengkapi malamnya dengan membaca rekomendasi wedangan malam Ramadhan Solo atau mencari jajanan tradisional dalam takjil legendaris Solo bulan puasa.

Berbuka Tidak Pernah Sendiri

Ramadhan membuat meja makan jarang terisi satu orang. Selalu ada teman, keluarga, atau rekan kerja. Dan ketika tempat makan menyediakan ruang nyaman, orang tidak merasa hanya menjadi pelanggan, tetapi menjadi tamu.

Penutup

Jika suatu sore Anda ingin berbuka tanpa tergesa, datanglah lebih awal, duduk pelan, dan biarkan adzan datang sendiri.

Untuk informasi atau reservasi, Anda dapat menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222.

Semoga setiap hidangan yang Anda nikmati membawa kesehatan dan keberkahan. Aamiin.

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Kuliner Malam Solo Setelah Tarawih yang Selalu Diburu Warga

Kuliner Malam Solo Setelah Tarawih: Saat Kota Tidak Ingin Cepat Tidur

Tarawih di Solo jarang benar-benar menjadi penutup malam. Justru setelah salam terakhir, kota seperti membuka halaman baru. Sandal kembali dipakai, obrolan kembali menyala, dan langkah kaki tidak langsung menuju rumah. Banyak orang berjalan pelan, seolah perut sudah kenyang tetapi hati masih ingin ditemani.

Kuliner Malam Solo Setelah Tarawih

Di sinilah kuliner malam Solo setelah tarawih mengambil perannya. Ia bukan sekadar tempat makan kedua. Ia tempat orang menurunkan tempo hari, melanjutkan cerita yang tadi tertunda saat berbuka.

Jika Anda mengikuti alur perjalanan Ramadhan kota ini, Anda akan melihat pola yang rapi. Orang berbuka lebih dulu, lalu beribadah, kemudian kembali mencari meja. Pola lengkapnya bisa Anda pahami dari panduan utama kuliner Ramadhan Solo 2026 yang seperti peta kecil perjalanan perut selama sebulan.

Malam Dimulai Setelah Ibadah

Sekitar pukul delapan setengah, jalanan kembali hidup. Tidak sepadat sore, tetapi lebih santai. Motor berhenti bukan karena macet, melainkan karena melihat warung yang lampunya terasa ramah.

Banyak yang memulai dari daftar tempat buka puasa Solo yang siang tadi penuh, lalu kembali lebih tenang di malam hari. Warung yang sama terasa berbeda karena suasananya berubah.

Makanan yang Cocok untuk Jam Tenang

Setelah malam datang, selera ikut menyesuaikan. Orang tidak lagi mengejar manis seperti saat berbuka. Mereka mencari hangat. Kuah menjadi lebih menarik daripada gorengan.

Karena itu sebagian orang kembali mencari hidangan berkuah seperti dalam pembahasan menu buka puasa favorit orang Solo, sementara lainnya justru mengejar aroma bakaran yang lebih dalam sebagaimana dibahas pada sate kambing Solo saat Ramadhan.

Warung yang Mengerti Waktu

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Tidak memanggil keras, tetapi aromanya berjalan sampai ke kursi.

Website Sate kambing solo terkenal sering dibuka pengunjung sebelum memesan. Parkir luas memudahkan mobil keluarga, bahkan bus dan elf bisa masuk dengan tenang. Di dalam ada mushola dan toilet bersih sehingga rombongan merasa nyaman.

Obrolan yang Baru Mulai

Sering kali meja yang awalnya hanya memesan minuman akhirnya menambah hidangan. Beberapa bahkan sudah menyesuaikan kedatangannya berdasarkan jam ramai kuliner Ramadhan Solo agar suasana tetap santai.

Dari Takjil ke Tengah Malam

Perjalanan malam sering dimulai dari sore setelah orang berkeliling di pasar takjil Solo. Setelah berbuka dan tarawih, barulah mereka kembali keluar menikmati babak terakhir hari.

Bahkan sebagian pengunjung membandingkan rasa kuah hangat dengan pengalaman makan dalam tengkleng untuk buka puasa yang terasa berbeda ketika dinikmati lebih larut.

Penutup

Kuliner malam Solo setelah tarawih bukan sekadar makan. Ia cara menutup hari dengan tenang.

Untuk reservasi rombongan Anda dapat menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222.

Semoga setiap langkah malam Anda membawa kesehatan dan keberkahan. Aamiin.

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Pasar Takjil Solo Terpopuler 2026: Surga Jajanan Menjelang Maghrib

Pasar Takjil Solo 2026: Tempat Berburu Senja dan Rasa yang Datang Setahun Sekali

Setiap Ramadhan, Solo selalu punya satu acara yang tidak pernah ditulis di kalender kota, tetapi selalu dihadiri semua orang: berburu takjil. Tidak ada undangan resmi, tidak ada panggung utama, namun setiap sore ribuan langkah menuju arah yang sama. Matahari belum tenggelam, tetapi aroma sudah lebih dulu pulang.

Pasar Takjil Solo 2026

Inilah pasar takjil Solo — ruang sementara yang hanya hidup sebulan, lalu menghilang seperti mimpi yang sopan. Ketika bulan puasa datang, trotoar berubah menjadi meja panjang. Pedagang dan pembeli seperti saling mengenal sejak lama, meski baru bertemu beberapa menit.

Bila Anda ingin memahami keseluruhan perjalanan kuliner bulan puasa di kota ini, kami sarankan memulai dari panduan utama kuliner Ramadhan Solo 2026. Setelah itu, barulah perjalanan kecil setiap sore terasa lengkap.

Sore Hari: Ketika Jalanan Mengganti Fungsinya

Pukul empat lewat tiga puluh, jalan mulai beralih tugas. Ia bukan lagi tempat kendaraan lewat, melainkan tempat aroma berjalan. Penjual kolak membuka tutup panci pelan, seperti membangunkan manisnya santan. Sementara es buah mengedipkan warna, memanggil anak kecil yang pura-pura hanya menemani orang tuanya.

Anda akan melihat orang yang awalnya hanya ingin melihat-lihat, akhirnya membawa tiga kantong sekaligus. Pasar takjil tidak pernah memaksa, tetapi selalu berhasil membujuk.

Dan menariknya, sebagian orang tidak langsung pulang setelah membeli. Mereka mencari tempat berbuka terdekat. Banyak yang melanjutkan perjalanan ke daftar tempat buka puasa Solo paling ramai karena takjil sering hanya pembuka percakapan.

Takjil Favorit yang Selalu Kembali

Ada makanan yang hanya muncul di Ramadhan. Dan anehnya, rasanya tidak pernah sama jika dimakan di bulan lain. Mungkin karena lapar ikut menjadi bumbu.

Kolak pisang berjalan pelan dari panci ke mangkuk, seperti tahu ia akan dinanti. Gorengan berbunyi kecil ketika diangkat dari minyak, seolah berkata waktunya pulang. Bahkan es cendol terasa lebih dingin ketika menunggu adzan.

Namun setelah manis pertama lewat, banyak orang mencari rasa yang lebih dalam. Mereka ingin duduk dan makan sungguhan.

Dari Takjil ke Makan Besar

Perjalanan berburu takjil hampir selalu berakhir di meja makan. Dan di beberapa sudut kota, ada dapur yang tidak ikut ramai berteriak, tetapi tetap didatangi.

Di Warung Tengkleng Solo Dlidir, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Setelah seharian menahan lapar, tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi) terasa seperti jawaban yang datang tepat waktu.

Lalu rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi), membuat orang yang awalnya diam mendadak banyak cerita. Meja panjang menjadi tempat berbagi kisah hari itu, bukan sekadar berbagi lauk.

Menunggu Adzan Bersama

Beberapa pengunjung sengaja datang sebelum maghrib. Mereka membeli takjil, lalu duduk. Ada yang bermain ponsel, ada yang mengobrol pelan, ada pula yang hanya melihat jalan.

Saat adzan datang, semua gerakan terasa lebih lambat. Air minum pertama selalu diminum tanpa suara. Sendok pertama selalu lebih pelan.

Kadang satu rombongan memesan kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000). Bukan untuk pamer, tetapi untuk memastikan semua mendapat bagian. Ramadhan membuat orang ingin berbagi bahkan sebelum kenyang.

Setelah Berbuka: Kota Tidak Langsung Sepi

Selesai berbuka, orang tidak buru-buru pulang. Solo seperti menahan mereka sedikit lebih lama. Lampu warung menyala lebih hangat, dan udara malam mulai nyaman.

Dua tusuk sate buntel mengunci rasa (Rp40.000), disusul sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi). Anda bisa melihat kenapa menu itu selalu dibicarakan dalam daftar Sate kambing solo terkenal.

Obrolan biasanya justru dimulai setelah kenyang.

Fasilitas yang Membuat Orang Kembali

Ramadhan membuat banyak orang datang bersama: keluarga besar, teman kantor, hingga komunitas. Karena itu tempat dengan parkir luas (bus & elf) sering dipilih. Tidak ada yang ingin berbuka dengan pikiran memikirkan kendaraan.

Mushola memudahkan ibadah tanpa berpindah lokasi. Toilet bersih memberi kenyamanan untuk anak-anak dan orang tua. Dan meja panjang cocok rombongan membuat kebersamaan tidak terpecah.

Kenyamanan sederhana sering menjadi alasan seseorang kembali di tahun berikutnya.

Setelah Tarawih: Rasa yang Lebih Tenang

Sesudah tarawih, suasana berubah. Tidak lagi tergesa. Orang makan lebih pelan. Pilihan pun lebih sederhana.

Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) sering menemani percakapan mahasiswa hingga larut. Sedangkan sego gulai malam hari (Rp10.000) hadir seperti penutup kalimat yang tepat.

Jika Anda ingin tahu waktu terbaik datang agar tidak berdesakan, Anda bisa membaca jam ramai kuliner Ramadhan Solo.

Kenapa Orang Selalu Kembali ke Pasar Takjil

Pasar takjil bukan hanya soal makanan murah atau banyak pilihan. Ia tentang kebiasaan yang berulang. Tentang sore yang terasa lengkap ketika membawa kantong plastik berisi minuman dingin.

Banyak orang datang setiap hari meski menunya sama. Karena yang dicari bukan variasi, tetapi suasana.

Dan setelah beberapa hari, Anda mulai hafal wajah pedagang. Mereka pun hafal pesanan Anda.

Menu yang Selalu Dicari Setelah Takjil

Sesudah manis pertama, biasanya orang mencari makanan hangat. Anda bisa melihat alasannya dalam pembahasan menu buka puasa favorit orang Solo yang sering menjadi tujuan berikutnya setelah berburu jajanan.

Bahkan banyak yang langsung melanjutkan malamnya dengan daftar kuliner malam Solo setelah tarawih karena perut kenyang sering mengundang cerita panjang.

Penutup: Senja yang Tidak Pernah Sama

Pasar takjil hanya ada satu bulan, tetapi kenangannya bertahan setahun. Ia datang tanpa diumumkan, pergi tanpa pamit, namun selalu dirindukan.

Jika suatu sore Anda ingin merasakan Ramadhan dengan cara paling sederhana, berjalanlah pelan, beli secukupnya, lalu duduk bersama orang yang Anda sayangi.

Untuk informasi tempat dan reservasi rombongan, Anda dapat menghubungi WhatsApp 0822 6565 2222.

Semoga setiap langkah Anda menuju waktu berbuka membawa kesehatan, hati yang lapang, dan rezeki penuh barokah. Aamiin.

Kuliner Ramadhan Solo 2026 Terlengkap: Tempat Buka Puasa, Menu Favorit & Jam Berburu Takjil

Kuliner Ramadhan Solo 2026 Terlengkap: Tempat Buka Puasa, Takjil, dan Malam yang Tak Mau Pulang

Ramadhan di Solo tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa rombongan: aroma santan yang berjalan pelan di udara, suara sendok beradu dengan mangkuk, dan langkah orang-orang yang mendadak lebih sabar dari biasanya. Kota ini berubah ritmenya. Siang menjadi jeda, sore menjadi janji, dan malam menjadi perayaan kecil yang berulang setiap hari selama sebulan.

Kuliner Ramadhan Solo 2026 Terlengkap

Mungkin Anda sudah sering berkunjung ke Solo. Namun ketika Ramadhan tiba, kota ini seperti membuka halaman lain dari dirinya. Jalan yang biasa lengang mendadak berdenyut. Trotoar berubah menjadi meja makan. Dan lampu warung terasa lebih hangat dari biasanya — seolah sengaja dinyalakan bukan hanya untuk menerangi, tapi menyambut.

Kami selalu percaya, berburu kuliner Ramadhan Solo bukan sekadar mencari kenyang. Ini tentang perjalanan kecil setiap sore. Tentang menunggu adzan bersama orang yang mungkin tidak Anda kenal, tapi terasa akrab karena sama-sama menahan lapar.

Menjelang Maghrib: Saat Kota Mulai Bernafas Cepat

Sekitar pukul lima sore, Solo mulai mempercepat langkahnya. Motor melambat di pinggir jalan, mata pengendara bergerak seperti membaca buku menu raksasa di sepanjang trotoar. Bau gorengan berlarian, sementara kolak berbisik pelan dari balik panci.

Jika Anda ingin tahu titik paling hidup di kota ini, Anda bisa membaca panduan lengkapnya di pasar takjil Solo 2026. Setiap lapaknya punya karakter. Ada yang ramai karena murah, ada yang ramai karena kenangan.

Anak kecil menunjuk es buah seperti menunjuk mainan impian. Orang dewasa pura-pura menawar padahal sudah pasti membeli. Sementara pedagang menakar gula bukan dengan sendok, tapi dengan pengalaman bertahun-tahun.

Ramadhan membuat semua orang menjadi lebih lembut. Bahkan suara klakson terdengar seperti minta izin.

Detik-Detik Adzan: Sunyi yang Menghangat

Ketika adzan akhirnya datang, Solo tidak meledak seperti kota besar. Ia menenangkan diri. Orang berhenti bicara sejenak. Sendok turun perlahan. Air minum terasa lebih penting dari biasanya.

Dan di meja sederhana, makanan menjadi lebih dari sekadar makanan.

Di beberapa sudut kota, dapur mulai mengeluarkan cerita terbaiknya. Salah satunya datang dari Warung Tengkleng Solo Dlidir. Di sana, dapur tak sekadar memasak—ia berbisik lewat asap rempah. Aroma tulang kambing tidak memanggil, tapi menuntun.

Tengkleng kuah merangkul tulang hangat (Rp40.000/porsi). Rica-rica menari lebih berani (Rp45.000/porsi). Dan ketika mangkuk disentuh, hangatnya tidak hanya turun ke perut, tapi ke suasana hati.

Banyak orang datang bukan karena lapar berat. Mereka datang karena ingin berbuka di tempat yang terasa seperti pulang.

Sesudah Buka: Perjalanan Belum Selesai

Kesalahan terbesar pengunjung baru di Solo adalah mengira buka puasa adalah tujuan. Padahal itu baru pembuka. Setelahnya, kota masuk babak kedua.

Orang berjalan lagi. Ada yang mencari kopi, ada yang mencari percakapan, ada yang mencari rasa yang belum sempat dicicipi sebelum maghrib. Anda bisa melihat rekomendasinya dalam tempat buka puasa Solo paling ramai — tapi percayalah, daftar itu selalu terasa kurang panjang.

Malam Ramadhan di Solo tidak mengejar jam. Ia berjalan pelan, tapi tidak berhenti.

Malam: Saat Rasa Menjadi Cerita

Selepas tarawih, kota seperti menarik kursi dan berkata: “Sekarang kita ngobrol.”

Warung kembali hidup. Namun kini tidak terburu-buru. Orang duduk lebih lama. Tertawa lebih keras. Dan memesan bukan karena lapar, tapi karena ingin memperpanjang kebersamaan.

Di meja besar kadang muncul kepala kambing + 4 kaki untuk 4–8 orang (Rp150.000). Bukan sekadar menu — tapi alasan satu rombongan berkumpul mengelilingi satu panci.

Dua tusuk sate buntel mengunci rasa (Rp40.000). Lalu datang sate kambing muda Solo lembut tiap gigitan (Rp30.000/porsi). Tidak ada yang memakannya cepat. Semua seperti menghormati perjalanan panjang bumbu sampai ke lidah.

Dan untuk yang datang tengah malam, sego gulai malam hari (Rp10.000) sering jadi penutup yang diam-diam sempurna.

Ramadhan dan Kenyamanan

Kuliner malam bukan cuma soal rasa. Ia soal betah.

Pengunjung sering bertahan lama di satu tempat karena suasananya memeluk. Parkir luas (bus & elf) membuat rombongan tidak perlu berdebat soal tempat kendaraan. Mushola memberi jeda ibadah tanpa harus pergi jauh. Toilet bersih menghindarkan perjalanan pulang yang gelisah.

Kami melihat sendiri, keluarga besar datang bersama. Anak kecil tertidur di kursi, orang tua masih mengobrol, dan meja tetap terisi teh hangat.

Tempat makan yang baik membuat Anda lupa jam, bukan mengingatkannya.

Paket Hemat dan Percakapan Panjang

Tidak semua malam ingin dirayakan besar. Kadang Ramadhan terasa paling indah ketika sederhana.

Oseng Dlidir + tongseng + nasi + es jeruk paket hemat (Rp20.000) sering jadi pilihan mahasiswa yang datang berdua atau bertiga. Mereka tidak mencari mewah, hanya butuh meja, cahaya, dan waktu.

Kami percaya, makanan murah yang dimakan lama sering meninggalkan kenangan paling mahal.

Kenapa Ramadhan Membuat Rasa Lebih Hidup

Anda mungkin pernah merasakan: menu yang sama di luar Ramadhan terasa biasa. Tapi saat puasa, ia terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih dalam.

Mungkin karena lapar memberi ruang bagi syukur. Atau karena menunggu membuat lidah lebih sabar mendengar rasa.

Solo memahami itu. Kota ini tidak memasak cepat. Ia memasak tepat.

Bahkan seporsi Sate kambing solo asli terasa seperti percakapan lama yang bertemu lagi.

Ramadhan Adalah Pertemuan

Di meja makan Ramadhan, status sosial sering menghilang. Orang kantor duduk dengan tukang parkir. Mahasiswa berdampingan dengan keluarga. Semua punya tujuan sama: berbuka dengan tenang.

Dan ketika Anda menemukan tempat yang membuat semua orang nyaman, biasanya Anda kembali ke sana tanpa perlu alasan.

Kadang bukan makanannya yang membuat rindu, tapi suasana ketika memakannya.

Penutup: Doa di Ujung Sendok

Kami berharap perjalanan kuliner Ramadhan Anda di Solo bukan hanya kenyang, tapi berkesan. Semoga setiap suapan membawa sehat, setiap pertemuan membawa barokah, dan setiap langkah pulang terasa ringan.

Jika suatu malam Anda mencari tempat yang tidak hanya memberi makan, tapi juga memberi jeda — Anda boleh mampir, duduk lama, dan membiarkan waktu berjalan pelan.

Reservasi & informasi: WhatsApp 0822 6565 2222

Semoga Ramadhan Anda dipenuhi kesehatan, rezeki lapang, dan hati yang tenang. Aamiin.

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :

Kuliner Solo yang Cocok untuk Rombongan Besar

Kuliner Solo yang Cocok untuk Rombongan?

Jawaban singkat: Pilih tempat makan ber-area luas, penyajian cepat, dan menu mudah dibagi. Di Solo, waktu paling nyaman untuk rombongan biasanya setelah pukul 20.30 saat meja sudah tertata dan alur dapur stabil. Jika ingin lebih lengang, datang mendekati tengah malam.

Kenapa Rombongan Perlu Strategi

Rombongan butuh ruang dan ritme. Begitu satu orang menunggu, semua ikut menunggu. Karena itu tempat dengan alur sajian cepat terasa jauh lebih nyaman. Selain kursi panjang, penting juga ada sirkulasi udara baik agar obrolan tetap enak didengar.

Di Solo, banyak tempat makan malam menyesuaikan pola ini. Meja disusun rapat namun tetap lega, pesanan keluar bertahap, dan orang bisa mulai makan tanpa menunggu semuanya datang.

Waktu Datang yang Paling Aman

  • 20.30–21.30: mudah dapat tempat duduk
  • 21.30–23.00: suasana ramai, cocok kumpul
  • 23.00–00.30: lebih santai untuk ngobrol

Jika Anda ingin melihat pilihan tempat yang buka larut, buka kuliner malam Solo buka sampai larut. Untuk alur kunjungan sejak awal hari, Anda bisa lanjut ke jelajah tempat makan terkenal Solo.

Tips Supaya Rombongan Nyaman

  • Pesan minum dulu agar meja langsung terisi
  • Pilih menu yang bisa dibagi
  • Datang sedikit lebih awal dari jam puncak
  • Tentukan satu orang koordinator pesanan

Rombongan Saat Ramadhan

Selama Ramadhan, rombongan biasanya datang menjelang berbuka lalu kembali lagi setelah tarawih. Jika ingin buka bersama, datang 30–45 menit sebelum adzan agar mudah mendapat tempat. Namun untuk suasana lebih santai, pilih setelah tarawih ketika meja mulai longgar dan obrolan lebih lepas.

Sekilas Persinggahan

Kami sering menutup perjalanan bersama di Warung Tengkleng Solo Dlidir — tempat yang terasa pas untuk duduk lama tanpa terburu. Anda bisa membaca pengalamannya di sate kambing solo terkenal atau menyapa 0822 6565 2222.

Semoga perjalanan rombongan Anda sehat dan barokah, dan setiap kursi yang terisi membawa cerita hangat.

Warung tengkleng bu jito dlidir Pusat :

Instagram kami :